Lombok yang Ada Kamunya, Anthem Rindu Tentang Lombok
- 02 Feb 2026 14:07 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Setiap orang yang pernah menginjakkan kaki di Lombok hampir selalu pulang membawa kepingan cerita. Bukan hanya soal barisan pantai yang cantik atau gagahnya Rinjani, Lombok adalah tentang perasaan, tentang rindu yang tiba-tiba datang dan kenangan yang tertinggal di sudut-sudut jalannya.
Dari ruang rasa itulah, lagu “Lombok yang Ada Kamunya” lahir sebagai sebuah pelukan bagi mereka yang rindu. Salah satu bait liriknya yang paling menggetarkan hati berbunyi:
"Bawa aku kembali, ke Lombok yang ada kamunya. Bukan untuk menetap, cukup hanya menatap. Walau kau tlah berubah, pulau ini kan tetap indah. Tapi seperti Sunset Merese di saat mendung, berkurang nikmatnya... Aku rindu Lombok yang ada kamunya."
Lirik tersebut seolah merangkum esensi dari karya ini, bahwa tempat seindah apa pun akan terasa berbeda jika "nyawa" atau orang yang kita sayangi tak lagi ada di sana.
Spontanitas yang Menyentuh
Jien, musisi yang menjadi sosok di balik lagu ini yang tampil dengan nama panggung BAPACKGURU, mengaku bahwa lirik ini mengalir secara spontan. “Berangkat dari ide bahwa setiap orang yang ke Lombok pasti punya cerita. Tidak mungkin cuma ingat tempatnya, pasti ingat momennya,” kata pada RRI Mataram, Senin 2 Februari 2026.
Metafora tentang Bukit Merese yang mendung menjadi simbol betapa kehadiran seseorang sangat memengaruhi cara kita menikmati keindahan. Tanpa kehadiran "kamu", keindahan Lombok tetap ada, namun terasa ada yang kurang, persis seperti menunggu senja di Merese namun tertutup awan abu-abu.
Perjalanan di Balik Layar
Awal mula terciptanya lagu ini bermula dari pesan singkat di WhatsApp. Bang Didik, manajer dari Lombok Etnik Fusion (LEF), menghubungi Jien untuk mengajak kolaborasi. Meski awalnya direncanakan sebagai proyek bersama, setelah dibicarakan lebih dalam, karakter lagu ini ternyata lebih menyatu jika dibawakan secara solo oleh BAPACKGURU.
Proses kreatifnya menjadi bukti kerja keras tim yang solid. Bersama Bang Didik Mahsyar, Alfian Bakti, dan Oyok Sapriadi, aransemen digarap intens selama dua minggu penuh. “Hampir tiap hari begadang,” kenang Jien. Kehadiran musisi lokal seperti Chandra Irawan pada gitar dan Lexa Apprigio pada drum turut memperkaya warna musiknya, menjadikannya sebuah karya yang jujur dan berkarakter.
Sambutan Hangat dari Hati ke Hati
Sebagai solois baru, BAPACKGURU mengaku tak menyangka jika karyanya akan diterima sehangat ini. Dalam waktu singkat, ribuan pasang telinga telah mendengarkan lagu ini melalui platform digital.
“Bagi saya yang baru memulai, ini adalah pencapaian yang sangat berarti. Saya bersyukur masyarakat begitu apresiatif,” ujarnya dengan rendah hati.
Pada akhirnya, lagu “Lombok” membuktikan bahwa musik yang lahir dari ketulusan akan selalu menemukan jalan pintas menuju hati pendengarnya. Karena bagi anak Lombok maupun para pelancong, pulau ini bukan sekadar destinasi, tapi sebuah ruang di mana rindu selalu punya tempat untuk pulang.