Kasus Campak di Bima Meningkat, Dokter Anak Ingatkan Pentingnya Imunisasi

  • 03 Mar 2026 08:54 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Kasus campak pada anak kembali menjadi perhatian setelah dilaporkan adanya peningkatan jumlah penderita di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB). Bahkan, dilaporkan terdapat dua kasus kematian balita akibat penyakit tersebut.

Dokter spesialis anak, dr Nurhandini Eka Dewi, mengungkapkan bahwa peningkatan kasus campak sebenarnya sudah terlapor sebelumnya melalui Dinas Kesehatan setempat dan diteruskan ke Kementerian Kesehatan.

“Peningkatan kasus campak ini bukan hanya di Bima, tetapi terjadi di seluruh Indonesia. Namun untuk NTB, kasus terbanyak memang di Bima. Laporan terakhir yang kami terima, jumlahnya sudah di atas 175 kasus dan dua di antaranya meninggal dunia,” ujarnya kepada RRI, Selasa 3 Maret 2026.

Menurutnya, mayoritas kasus campak yang berujung fatal terjadi pada anak usia balita. Ia menjelaskan, di sebagian masyarakat penyakit campak atau yang dikenal dengan istilah “edeh” kerap dianggap sebagai penyakit biasa yang tidak perlu penanganan medis khusus.

Padahal, secara medis, campak dapat meruntuhkan sistem kekebalan tubuh anak. Ketika daya tahan tubuh melemah, berbagai penyakit lain dengan mudah menyerang dan memperparah kondisi pasien.

“Yang menyebabkan kematian itu bukan semata-mata virus campaknya, tetapi penyakit lain yang ikut mendompleng. Yang paling sering adalah pneumonia atau radang paru-paru,” jelasnya.

Ia menambahkan, campak membuat sistem pertahanan tubuh anak turun drastis, sehingga infeksi lain menjadi lebih berat dan sulit ditangani.

Terkait penyebab meningkatnya kasus, dr Nurhandini menyoroti rendahnya cakupan imunisasi di sejumlah wilayah. Ia menegaskan, daerah dengan cakupan imunisasi tinggi umumnya memiliki kekebalan kelompok (herd immunity) yang mampu melindungi anak-anak yang belum diimunisasi.

“Kalau cakupan imunisasi di suatu daerah mencapai 90 persen atau lebih, biasanya satu-dua anak yang belum imunisasi masih bisa terlindungi karena ada herd immunity. Tapi kalau cakupannya rendah, di bawah 50 atau 60 persen, tidak ada perlindungan kelompok, sehingga penularan menjadi lebih luas,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa virus campak masih ada di lingkungan sekitar, sehingga imunisasi tetap menjadi langkah pencegahan paling efektif. Vaksin campak atau MR diberikan pertama kali saat anak berusia sembilan bulan, sesuai jadwal imunisasi nasional.

Terkait penanganan, dr Nurhandini mengimbau orang tua agar segera membawa anak ke fasilitas kesehatan jika muncul gejala campak, seperti demam, batuk, pilek, mata merah, dan ruam pada kulit.

“Kalau sudah curiga campak, segera ke dokter. Jangan menunggu sampai ruam keluar semua atau hanya ditangani secara tradisional. Di fasilitas kesehatan, anak akan diberikan terapi untuk meningkatkan daya tahan tubuh agar infeksi lain tidak ikut memperberat kondisi,” katanya dengan tegas.

Ia juga meluruskan anggapan lama bahwa anak yang terkena campak tidak boleh mendapatkan tindakan medis tertentu. Menurutnya, saat ini penanganan medis sudah disesuaikan dengan kondisi pasien dan tidak ada praktik yang membahayakan seperti yang dikhawatirkan sebagian masyarakat.

Dr Nurhandini pun mengajak para orang tua untuk memastikan anak mendapatkan imunisasi lengkap sesuai jadwal guna mencegah risiko komplikasi dan kematian akibat campak.

Rekomendasi Berita