Kopi Saring Tradisional, Jejak Abadi Kuatnya Tradisi

  • 25 Feb 2026 23:09 WIB
  •  Mataram

RRI.Co.ID, Mataram - Banyaknya kedai kopi modern dengan berbagai inovasi metode seduh kekinian dan percampuran rasa yang menggugah selera, kopi saring tradisional tetap menjadi pilihan istimewa bagi para penikmat kopi. Proses yang sederhana, namun kaya rasa dan makna budaya, kopi saring bukan sekedar minuman namun bagian dari warisan tradisi yang tak lekang oleh waktu.

Berakar dari jaman kolonialisme Belanda pada abad ke 17, berkembang dan diadaptasi menjadi ciri khas lokal dengan alat saring kain. Metode ini terkenal di berbagai daerah di Indonesia.

Ruang interaksi sosial semakin menarik karena suguhan kopi yang menemani ketika berdiskusi atau bertukar cerita. Warung Kopi dengan sajian sederhana namun mampu meningkatkan hubungan relasi semua kalangan melalui aroma dan sedapnya citarasa kopi yang tak mudah untuk dilupakan, merupakan warisan rasa yang patut dijaga.

Kopi saring tradisional tetap bertahan di tengah tren kopi yang terus berkembang. Mulai dari latte art hingga minuman bebasis susu dan sirup, bahkan perpaduan dengan komoditas lokal, seperti kopi susu gula aren, kopi saring tradisional tetap mendapat tempat spesial di hati. Belakang ini, muncul tren back to basic di kalangan anak muda, yaitu kembali mencari citarasa autentik dan pengalaman yang nyaman dalam kesederhanaan di tempat ngopi yang klasik.

Kopi saring tradisional dibuat dengan cara menyeduh bubuk kopi menggunakan air panas, lalu disaring memakai kain khusus atau saringan logam. Proses ini menghasilkan cita rasa yang kuat, pekat, dan beraroma khas. Berbeda dengan metode espresso atau pour over modern, kopi saring mempertahankan karakter asli biji kopi tanpa banyak intervensi alat.

Di banyak daerah, termasuk Lombok, Sumatera, hingga Sulawesi, metode ini sudah digunakan secara turun-temurun. Bahkan, di sejumlah warung kopi tradisional, teknik penyaringannya masih menggunakan kain yang dipakai berulang kali untuk menjaga kekayaan rasa. Di beberapa daerah lainnya, kopi saring juga menjadi bagian dari ritual adat atau suguhan wajib bagi tamu. Tradisi ini menunjukkan bahwa kopi memiliki nilai kultural yang kuat.

Salah satu alasan kopi saring tetap diminati adalah harganya yang terjangkau, dengan harga yang relatif murah, di tengah kenaikan harga bahan pokok, keberadaan kopi saring tradisional menjadi alternatif favorit masyarakat yang ingin tetap menikmati kopi. Harga kopi saring tradisonal khususnya di Kota Mataram bervariasi sesuai jenisnya, dengan kisaran harga mulai dari Rp.5000 hingga Rp.16000.

Kopi saring tradisional tetap memiliki pasar tersendiri hingga kini. Di balik cangkir kopi, terjaga citarasa autentik, tersimpan tradisi, kebersamaan dan cerita sehari-hari, aroma kopi yang mengepul dari logam tua, meninggalkan jejak abadi kuatnya akar tradisi.

Rekomendasi Berita