Musisi Papua Selatan Harapkan Pendidikan Musik Khusus
- 29 Jul 2025 08:43 WIB
- Merauke
KBRN, Merauke: Musik bukan hanya sekadar hobi bagi Rosely, pemain saksofon dari grup musik Billy and Family, merupakan bagian dari kehidupan yang dijalani sejak remaja.Saat hadir sebagai narasumber acara live music di RRI merauke , Ronald Reagan Rosely membagikan perjalanan bermusiknya serta harapannya terhadap masa depan pendidikan musik di Papua Selatan.
Ronald mengatakan Kami sejak kecil dilatih untuk bisa banyak alat musik, karena kalau ada posisi kosong, kami harus siap mengisinya. Memulai perjalanan bermusik sejak duduk di bangku SMP, sekitar tahun 2000. Ia mengenang awal mula belajar saksofon secara otodidak dari sebuah alat yang dikirim dari Sorong.
“Dulu ada pemain musik di kota sorong yang rela kirimkan alatnya ke Merauke. Waktu itu cuma ada dua, satu dipegang Pendeta, satu lagi saya pakai untuk belajar. Padahal keluarga saya tidak ada latar belakang memainkan alat music saksefon, tapi karena alatnya ada, ya saya coba saja, dan ternyata bisa,” kenangnya.
Menurut Ronald , saat ini teknologi memberikan kemudahan, namun juga tantangan tersendiri bagi musisi. Ia menyoroti bagaimana digitalisasi musik bisa mengurangi sentuhan manusia dalam bermusik.
“Sekarang, orang bisa main musik pakai aplikasi. Kadang kita dengar lagu, tapi semua instrumennya digital. Saya rasa itu bisa mengurangi originalitas,” jelasnya.
Meski begitu, ia percaya bahwa selera tetap menjadi penentu. Banyak orang, menurutnya, masih ingin menyaksikan penampilan musik secara langsung.
Dalam sesi wawancara tersebut, Ronal Reagan – rekan Rosely di grup musik Billy and Family turut menyampaikan kegelisahan tentang kurangnya wadah pendidikan musik formal di Papua selatan .
Ronal menegaskan “Anak-anak asli Papua punya potensi besar di musik. Tapi selama ini mereka belajar sendiri, tidak ada sekolah musik. Harapan kami, pemerintah bisa buat muatan lokal untuk musik di sekolah-sekolah,” kata Ronal.
Ia menambahkan bahwa minimnya lagu-lagu daerah Papua Selatan yang bertahan juga menjadi perhatian. Menurutnya, jika tidak ada regenerasi pencipta lagu lokal, maka kekayaan musik Papua akan semakin tergerus oleh waktu.
Baca Juga : Main Musik dari Hati, Bukan Sekadar Teknik
“Ketika penciptanya meninggal, lagunya ikut hilang. Padahal anak-anak muda Papua sebenarnya bisa menciptakan karya baru, tinggal diberi ruang dan pembinaan,” tegasnya.
Ronald lalu menutup dengan pesan menyentuh bagi generasi muda. Ia berharap anak-anak tidak larut dalam kecanggihan teknologi, melainkan bisa memanfaatkannya secara positif untuk menggali potensi bermusik.
“Kalau kalian mendengar musik lalu merasa tergugah, itu tandanya kalian punya talenta. Jangan takut, musik itu tidak pernah merugikan. Bahkan, bisa jadi nilai lebih di mana pun kita berada,” pungkasnya .