Akademisi UTU Perkenalkan Inovasi Jaring Insang Penangkapan Udang
- 19 Okt 2025 18:22 WIB
- Meulaboh
KBRN, Meulaboh: Akademisi Universitas Teuku Umar (UTU) memperkenalkan inovasi Jaring Insang Dua Lapis kepada nelayan Suak Seumaseh, Kecamatan Samatiga, Kabupaten Aceh Barat. Jaring alat tangkap udang inovasi baru ini akan mendongkrak hasil tangkapan nelayan di Aceh Barat.
Ketua Tim Peneliti Bidang Teknologi Penangkapan Ikan di Pusat Studi Bawah Laut (Sub-Marine Research Centre) Universitas Teuku Umar, Hafinuddin, M.Sc, menjelaskan, bahwa, inovasi ini tidak hanya menekan biaya investasi awal, tetapi juga meningkatkan volume tangkapan udang nelayan tradisional.
"Keunggulan jaring dua lapis adalah biaya pembuatan yang lebih hemat 28 persen dari trammel net dan memiliki hasil tangkapan yang lebih tinggi 2 kali dari jaring insang yang sudah turun temurun digunakan oleh nelayan Suak Seumaseh," ujarnya dalam siaran pers diterima RRI.co.id, Minggu (19/10/2025).
Nelayan Suak Seumaseh merupakan nelayan tradisional yang telah menangkap udang dogol dengan menggunakan jaring insang tiga lapis (trammel net). Perikanan udang merupakan kegiatan penangkapan ikan yang menjanjikan mengingat hasil tangkapan adalah komoditas ekonomis tinggi.

Foto bersama akademisi, mahasiswa dan nelayan Suak Seumaseh, Samatiga, Aceh Barat.
Harga udang dogol di tingkat nelayan berkisar antara Rp110.000-Rp120.000 per kilogram. Harga yang tinggi dan disokong dengan alat tangkap yang efektif secara penangkapan dan efesien secara ekonomi merupakan hal yang sangat diharapkan oleh nelayan Suak Seumaseh.
"Kondisi tersebut mendorong Universitas Teuku Umar melalui para akademisi untuk berinovasi untuk penerapan teknologi penangkapan ikan yang ramah lingkungan melalui jaring insang dua lapis untuk perikanan udang di Suak Seumaseh," jelasnya lagi.
Kegiatan ini diketuai oleh Hafinuddin, M.Sc dan tim lain terdiri dari Prof. Dr. Ir. Ismail Sulaiman, S.TP., Maitrise, M.Sc., IPU, Asean Eng., Samsul Bahri, M.Si, dan Eka Lisdayanti, M.Si. Tim juga merupakan bagian dari peneliti di Pusat Studi Bawah Laut (Sub-Marine Research Centre) Universitas Teuku Umar.
Kegiatan yang telah dimulai dari 27 September 2025 sampai dengan bulan November 2025 berasal dari anggaran Hibah Internal Universitas Teuku Umar melalui skema Pengabdian Kepada Masyarakat Penugasan Pusat Riset (PKMPPR) tahun 2025.
"Harapannya, kegiatan ini menjadi kontribusi nyata perguruan tinggi UTU untuk hilirisasi hasil riset para dosen/peneliti kepada masyarakat," ujar Ketua Pusat Studi Bawah Laut, Prof Ismail Sulaiman.
Sehingga Asta Cita presiden untuk mewujudkan ketahanan pangan (hewani) dapat tercapat melalui program Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) yaitu Kampus Berdampak.
Sementara itu Panglima Laot Lhok Suak Seumaseh T Agus Midi menyampaikan, apresiasi dan terima kasih atas kegiatan yang sangat bermanfaat ini. "Ini menjadi ilmu baru dan tentunya ini sangat membantu kami nelayan untuk melakukan kegiatan melaut dengan modal yang rendah dan hasil tangkapan yang lebih bagus," ujar Panglima Lhok Suak Seumaseh.