Ketua Adat Tidung Ungkap Makna Ritual Bejiu Sapor di Nunukan

  • 16 Feb 2026 09:15 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan - Ritual Bejiu Sapor jadi tradisi sakral Suku Tidung untuk menolak bala. Tradisi ini digelar setiap Rabu terakhir bulan Safar. Bejiu Sapor masih dijalankan masyarakat Tidung di Nunukan hingga kini. Ritual ini juga dilakukan Tidung di Malaysia, Filipina, dan Brunei Darussalam. Hal ini disampaikan Ketua Lembaga Adat Tidung Nunukan, H. Sura’i.

“Bejiu Sapor adalah sebuah ritual suku kaum Tidung yang sangat disakralkan, baik yang berada di lima kabupaten, kota di Kalimantan Utara maupun yang di Malaysia, Filipina, dan di Brunei Darussalam. Bejiu Sapor ini dilaksanakan pada bulan Safar, hari Rabu terakhir. Jadi karena konon menurut orang Tidung saat itulah bala akan banyak turun.” ucapnya, Senin (16/02/2026).

Menurut kepercayaan masyarakat Tidung, ritual ini menjadi upaya menghilangkan sengkala dan bencana. Bejiu Sapor diyakini menjaga kampung dan daerah dari marabahaya selama setahun. Dalam pelaksanaannya, Bejiu Sapor juga dirangkaikan dengan makan bersama. Makanan yang disajikan berupa ketupat, latup dari beras sangrai, serta kopi.

“Maka dilaksanakan ritual Bejiu Sapor untuk menolak bala, menghilangkan sengkala dan bencana, baik kepada pribadi kita maupun yang akan turun, yang akan melanda kampung maupun daerah kita. Sehingga dengan dilaksanakan Bejiu Sapor maka orang Tidung sudah berkeyakinan satu tahun ke depan perkampungannya atau daerahnya itu akan selamat dari marabahaya dan membawa hasil-hasil yang baik kepada tanaman mereka maupun perkebunan-perkebunan mereka.” katanya

Sura’i menjelaskan setiap sajian memiliki makna yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat Tidung. Tradisi ini juga menjadi simbol doa untuk panen, ketenangan, dan kemudahan hidup.

“Pada saat Bejiu Sapor juga dilaksanakan makan bersama yaitu berupa ketupat, kemudian ada latup. Latup itu dari beras yang disangrai dan selalu ada kopi. Apa maknanya ketupat dari beras itu menandakan bahwa hasil panen kita insya Allah selalu berlimpah. Kemudian kalau dia kopi itu adalah

lambang daripada sebuah penyejukan atau hati yang tenang, yang bagus dan latup tadi, latup atau beras yang disangraikan itu ringan. Dia akan jadi ringan seperti pongkor itu maka dianggap maka kehidupan kita kedepannya akan selalu ringan dan selalu mudah menjalaninya.” ucapnya

Rekomendasi Berita