Mengulas "Emosi" Karya Tristanti W

  • 24 Feb 2026 12:58 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan - Banyak dari kita tumbuh dengan doktrin bahwa menangis adalah tanda lemah dan marah adalah tanda tak beradab. Akibatnya, kita menjadi ahli dalam memendam, bukan mengolah.

Dalam karya terbarunya, Tristanti W mengajak pembaca untuk berhenti berperang dengan perasaan sendiri dan mulai memandang emosi sebagai "data", bukan "bencana". Diterbitkan oleh Jendela Penerbit menjelang akhir 2025, buku ini hadir sebagai panduan praktis bagi masyarakat modern yang sering kali merasa terasing dari perasaan mereka sendiri akibat tuntutan logika dan produktivitas.

Memahami Spektrum Emosi sebagai Kompas

Tristanti menjelaskan bahwa setiap emosi memiliki fungsi evolusioner. Rasa takut ada untuk melindungi, rasa marah ada untuk menjaga batasan (boundaries), dan rasa sedih ada untuk memberi sinyal bahwa kita butuh pemulihan.

Buku ini membagi proses menghadapi emosi menjadi tiga tahap kunci:

  • Identifikasi: Belajar memberi nama pada apa yang dirasakan (bukan sekadar "sedih", tapi mungkin "kecewa" atau "merasa diabaikan").

  • Penerimaan: Mengizinkan emosi itu hadir tanpa menghakiminya sebagai hal negatif.

  • Pelepasan: Menemukan cara sehat untuk mengekspresikan emosi tersebut agar tidak mengendap menjadi trauma.

Bahaya "Pengabaian Emosional"

Salah satu poin yang kuat dalam buku ini adalah pembahasan mengenai dampak jangka panjang dari menekan emosi. Tristanti memaparkan bagaimana emosi yang tidak terproses dapat bermanifestasi menjadi keluhan fisik (psikosomatik) hingga kelelahan mental kronis (burnout).

"Emosi yang ditekan tidak pernah benar-benar mati; mereka hanya dikubur hidup-hidup dan akan muncul kembali dengan cara yang lebih buruk kelak." — Tristanti W.

Teknik "Grounding" dalam Keseharian

Tristanti tidak hanya berteori. Ia menyertakan latihan-latihan praktis yang bisa dilakukan saat seseorang merasa "tertelan" oleh emosinya. Mulai dari teknik pernapasan hingga metode penulisan ekspresif (journaling) yang dirancang untuk mengurai benang kusut di kepala.

Suara bagi yang Terbungkam

Secara konten, buku ini sangat relevan di tengah meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental di Indonesia. Tristanti W berhasil menyederhanakan konsep psikologi yang kompleks menjadi narasi yang mengalir dan mudah dicerna, tanpa menghilangkan kedalaman substansinya.

Secara keseluruhan, "Emosi: Bagian dari Proses yang Harus Dihadapi" adalah pengingat bahwa menjadi manusia berarti berani merasakan. Buku ini bukan tentang cara menjadi bahagia setiap saat, melainkan tentang cara menjadi utuh dengan segala rasa yang ada.

Rekomendasi Berita