Kusut Sebuah Novel
- 25 Feb 2026 09:03 WIB
- Nunukan
RRI.CO.ID, Nunukan: Dalam jagat sastra Indonesia, tema perantauan dan konflik batin masyarakat Minangkabau selalu memiliki daya tarik tersendiri. Namun, melalui novelnya yang bertajuk Kusut, Ismet Fanany membawa pembaca ke tingkat kedalaman yang berbeda. Ia tidak hanya bicara tentang kerinduan pada kampung halaman, tetapi tentang bagaimana ego, rahasia, dan tuntutan adat bisa menjerat hidup seseorang hingga menjadi "kusut" tak berujung. Novel ini berpusat pada kehidupan para tokohnya yang berada di persimpangan jalan antara tradisi dan modernitas. Ismet Fanany, yang juga seorang akademisi, menggunakan latar belakang diaspora untuk memperlihatkan betapa sulitnya menjaga identitas diri ketika seseorang berada jauh dari sumber budayanya.
Inti dari narasi ini adalah sebuah konflik internal dan eksternal yang melibatkan:
- Ketegangan Keluarga: Hubungan antar anggota keluarga yang renggang akibat miskomunikasi dan rahasia masa lalu.
- Beban Adat: Bagaimana nilai-nilai tradisional Minangkabau tetap membayangi keputusan hidup para tokoh, meskipun mereka berada di lingkungan yang jauh berbeda.
- Krisis Identitas: Pencarian makna tentang "pulang" dan "menetap" di tengah dunia yang terus berubah.
Yang membuat Kusut menonjol adalah gaya penceritaan Fanany yang tenang namun menghunjam. Ia tidak menggunakan dramatisasi yang berlebihan. Sebaliknya, ia membiarkan pembaca merasakan kegelisahan para tokoh melalui dialog yang realistis dan observasi tajam terhadap perilaku manusia.
Sesuai dengan judulnya, buku yang di terbitkan oleh Angkasa pada Oktober 2015 ini, plot dalam novel ini dirancang seperti benang yang saling berkelindan. Pembaca diajak untuk perlahan-lahan mengurai satu per satu simpul permasalahan yang awalnya tampak sederhana, namun ternyata berakar jauh pada trauma dan kesalahpahaman bertahun-tahun.
Secara jurnalistik, Kusut dapat dipandang sebagai kritik sosial terhadap fenomena "diam" dalam keluarga. Fanany menyoroti bagaimana keengganan untuk berterus terang demi menjaga martabat atau wajah di depan orang lain justru seringkali menjadi api dalam sekam yang merusak kebahagiaan dari dalam.
Kusut bukan sekadar bacaan pengisi waktu. Ia adalah cermin bagi siapa saja yang pernah merasa asing di tanah sendiri atau merasa terbebani oleh ekspektasi orang-orang terdekat. Ismet Fanany kembali membuktikan bahwa ia adalah salah satu pengamat budaya terbaik dalam bentuk fiksi. (Sumber: Buku kita.com).