BPOM Ingatkan Ancaman Serius Antimikroba Resisten

  • 07 Feb 2026 20:51 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang - Menjelang meningkatnya kasus resistensi antibiotik di berbagai daerah, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (POM) RI kembali mengingatkan masyarakat tentang bahaya antimikroba resisten yang kini semakin nyata. Hal tersebut diungkapkan Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar, dalam workshop yang digelar di Padang, Sumatera Barat pada Sabtu, 7 Februari 2026. 

Taruna menegaskan, kasus resistensi antibiotik bukan lagi ancaman, tetapi sudah terjadi. Hal itu membutuhkan aksi bersama untuk mencegah dampak fatal bagi kesehatan manusia.

Ia menyebut tanda-tanda resistensi mikroba sudah semakin terlihat. Hal itu ditandai dengan ketidakmampuan mikroorganisme melawan penyakit yang pada akhirnya dapat menyebabkan kematian. "Resistensi antimikroba berkembang perlahan, tetapi dampaknya sangat fatal," ucap Taruna.

Taruna menjelaskan bahwa Eschericia coli (E-coli) saat ini menjadi salah satu indikator utama dalam pengembangan bioteknologi untuk memantau kondisi resistensi bakteri. Berdasar pemantauan tersebut, sekitar 40 persen bakteri di lingkungan telah resisten terhadap turunan penisilin dan amoksiilin. Angka tersebut bahkan terus meningkat dan mendekati 50 persen.

“Artinya, dari 100 orang yang diberi antibiotik jenis penisilin, sekitar 43 persen sudah tidak merespons lagi atau tidak sembuh karena bakterinya telah kebal,” ujarnya. Kondisi ini, menurut Taruna  menunjukkan seriusnya ancaman antimikroba resisten (AMR) bagi kesehatan masyarakat.

Taruna menambahkan, permasalahan AMR tidak hanya berasal dari sektor medis, tetapi juga disumbang oleh praktik di sektor pertanian dan perikanan. Misalnya, penggunaan antibiotik pada kolam-kolam ikan serta pemakaian disinfektan pada tanaman yang dapat mencemari lingkungan dan mempercepat penyebaran resistensi.

Ia mengajak, seluruh lapisan masyarakat untuk bergerak bersama melakukan aksi pencegahan dan menjadi “pejuang anti-resisten” demi menjaga masa depan manusia. Menurutnya, langkah ini penting untuk menghindari terjadinya silent pandemic atau pandemi senyap yang berpotensi terjadi akibat kegagalan antibiotik dalam mengatasi infeksi.

“Antimikroba resisten adalah ancaman yang menakutkan. Kita harus memproteksi diri dengan perilaku bijak dan penggunaan antibiotik yang tepat agar tidak memasuki fase darurat kesehatan,” tutur Taruna.

Rekomendasi Berita