Serupa tapi Tak Sama, Kenali Perbedaan Abrasi dan Ablasi

  • 21 Feb 2026 08:01 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Palangka Raya: Masyarakat sering kali keliru dalam menggunakan istilah abrasi dan ablasi saat melaporkan fenomena pengikisan lahan yang terjadi di lingkungan sekitar mereka. Padahal, secara geografis kedua fenomena ini memiliki karakteristik, lokasi, dan penyebab yang sangat berbeda satu sama lain.

Abrasi merupakan proses pengikisan wilayah pesisir yang disebabkan oleh hempasan gelombang laut dan arus laut yang bersifat merusak atau destruktif. Fenomena ini biasanya mengakibatkan mundurnya garis pantai ke arah daratan sehingga mengancam keberadaan pemukiman warga di tepi laut.

Sebaliknya, Ablasi adalah proses pengikisan tanah atau batuan yang terjadi di daratan akibat aliran air, khususnya arus sungai yang deras. Faktor utama penyebab ablasi adalah volume air dan kemiringan lereng yang memicu terkikisnya tebing sungai secara terus-menerus.

Berdasarkan data literatur dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), perbedaan mendasar keduanya terletak pada media pengikis dan lokasi spesifik kejadiannya. Jika abrasi murni dipicu oleh air laut di kawasan pantai, maka ablasi berkaitan erat dengan dinamika air tawar di bantaran sungai.

Pemahaman istilah yang akurat ini sangat penting bagi warga agar laporan kebencanaan yang disampaikan kepada instansi terkait menjadi lebih tepat sasaran. Dengan penggunaan istilah yang benar, pemerintah dapat menentukan langkah mitigasi yang sesuai, baik itu penanaman mangrove untuk laut maupun penguatan tebing untuk sungai.

Menjaga kelestarian lingkungan dengan tidak merusak vegetasi di pinggiran sungai maupun pesisir pantai serta aktif melakukan penghijauan kembali dapat memperkuat benteng alami tanah dari ancaman pengikisan. Kepedulian masyarakat dalam menanam mangrove dan menjaga akar pohon di bantaran sungai hari ini juga merupakan investasi besar untuk melindungi ruang hidup generasi mendatang dari bahaya abrasi maupun ablasi.

Rekomendasi Berita