Tradisi Kebersamaan Suku Ogan, Jaga Pengairan dan Sungai

  • 07 Mar 2026 09:13 WIB
  •  Palembang

RRI.CO.ID, Ogan Komering Ulu - Selain melalui pepatah adat, masyarakat Ogan juga menjaga lingkungan melalui berbagai tradisi yang berkaitan dengan pengelolaan air dan sungai. Tradisi tersebut umumnya dilakukan secara gotong royong yang dalam masyarakat Ogan dikenal dengan istilah bebiye atau metong.

Dandy Naufalzach Fadlurahman, sebagai Pemerhati budaya Ogan, menjelaskan salah satu tradisi yang masih dikenal adalah nyarau atau babak, yakni kegiatan membuat tanggul atau saluran pengairan secara bersama-sama.

Menurutnya bahan yang digunakan dalam tradisi ini umumnya berasal dari alam seperti bambu, kayu, maupun pelepah tanaman sehingga tidak merusak ekosistem sungai.

“Pengairan dibuat dari bahan alami seperti pelepah bambu atau kayu. Tujuannya agar air tetap mengalir tanpa merusak kondisi sungai,” Ujar Dandy dalam obrolan singkat melalui telpon bersama RRI, Jumat, 6 Maret 2026.

Selain itu, masyarakat Ogan juga mengenal tradisi ngakha, yaitu membendung sungai secara sementara untuk menangkap ikan. Namun bendungan tersebut tidak bersifat permanen dan tetap memberi ruang agar air sungai tetap mengalir.

“Bendungan dibuat dari batu atau bahan alami dan tidak menutup sungai sepenuhnya. Prinsipnya mengambil hasil alam secukupnya tanpa merusak,” ujarnya.

Rekomendasi Berita