Lebak Pedamaran Jadi Sumber Kehidupan Warga Ogan Komering Ilir
- 07 Mar 2026 05:11 WIB
- Palembang
RRI.CO.ID, OKI - Kawasan lebak di Pedamaran, Kabupaten Ogan Komering Ilir, menjadi sumber kehidupan masyarakat sejak lama. Perairan lebak dimanfaatkan warga untuk menangkap ikan sekaligus menopang ekonomi keluarga.
Wilayah Pedamaran dikenal memiliki kawasan lebak yang luas dan tersebar di berbagai lokasi. Bagi masyarakat setempat, lebak bukan sekadar genangan air, tetapi warisan alam yang dijaga turun-temurun.
Warga Pedamaran, Suparman Guluk, mengatakan di wilayah tersebut terdapat puluhan lebak yang dimanfaatkan masyarakat untuk mencari ikan. Berdasarkan pencatatan yang ada, jumlahnya diperkirakan mencapai sekitar tiga puluh empat lokasi lebak.
Beberapa lebak yang dikenal masyarakat antara lain Lebak Petai Besar, Lebak Petai Kecil, Lebak Pedamaran, Lebak Rakit, hingga Lebak Purun. Setiap lebak memiliki karakteristik serta luas wilayah yang berbeda.
“Lebak tersebut menjadi tempat hidup berbagai jenis ikan air tawar. Meski air surut, kedalaman sebagian lebak tetap mencapai enam meter,” ujarnya ketika dibincangi RRI, Jumat 6 Maret 2026.
Menurut Suparman, sebagian lebak bahkan dapat mencapai kedalaman lebih dari sepuluh meter saat musim banjir. Kondisi tersebut menjadikan lebak sebagai habitat alami berbagai jenis ikan air tawar.
Pengelolaan lebak biasanya dilakukan melalui sistem lelang yang diselenggarakan setiap tahun. Pemenang lelang memiliki hak menangkap ikan menggunakan alat tangkap seperti jala dan jaring.
Nilai lelang setiap lebak berbeda-beda tergantung luas wilayah serta potensi ikan di dalamnya. Ada lebak yang dilelang sekitar sepuluh juta rupiah hingga puluhan juta rupiah setiap tahun.
“Pemenang lelang biasanya mengajak anggota kelompok untuk mengelola lebak tersebut. Hasil tangkapan kemudian dibagi sesuai kesepakatan bersama,” tuturnya.
Namun dalam beberapa tahun terakhir hasil tangkapan ikan mulai berkurang. Kondisi ini diduga akibat praktik penangkapan ikan yang merusak lingkungan perairan lebak.
Suparman menyebut masih ada oknum masyarakat menggunakan racun maupun alat setrum saat menangkap ikan. Praktik tersebut dinilai dapat merusak ekosistem dan mengancam keberlanjutan sumber daya ikan.
Sementara itu warga lain, Tasman, menjelaskan beberapa nama lebak berasal dari kondisi alam di sekitarnya. Salah satunya Lebak Purun yang dinamai karena banyak tumbuhan purun tumbuh di kawasan tersebut.
“Tanaman purun memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat. Purun sering dimanfaatkan menjadi kerajinan seperti tikar, tas, topi, hingga alas kaki,” ujarnya.
Kerajinan purun banyak ditemukan di desa sekitar Pedamaran seperti Menang Raya dan Pedamaran Satu. Produk tersebut menjadi sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat setempat.
Selain ikan, masyarakat juga memanfaatkan hasil alam lainnya dari kawasan lebak. Ikan hasil tangkapan sering diolah menjadi makanan khas seperti kemplang yang dibakar atau digoreng menggunakan pasir panas.
Tradisi pemanfaatan lebak menjadi bagian penting kehidupan masyarakat Pedamaran. Warga berharap kelestarian lebak tetap terjaga agar manfaatnya dapat dirasakan hingga generasi mendatang.