Jangan Takut Imposter Syndrome, Kelola dengan Tepat

  • 26 Feb 2026 17:35 WIB
  •  Palembang

RRI.CO.ID, Palembang - Banyak pekerja ambisius merasa tidak pantas atas kesuksesan yang mereka raih. Fenomena ini dikenal sebagai imposter syndrome dan kerap menghantui individu berprestasi.

Perasaan tersebut muncul ketika seseorang meragukan pencapaian dirinya sendiri. Padahal lingkungan sekitar menilai ia layak dan menunjukkan kinerja unggul.

Profesor Harvard sekaligus pakar kebahagiaan, Arthur C. Brooks, membahas fenomena ini dalam tayangan YouTube Harvard Business Review yang diunggah pada Selasa, 5 Agustus 2025. Ia meneliti kelompok pekerja keras yang terus mengejar prestasi dan menyebutnya sebagai strivers.

Menurut Brooks, semakin tinggi seseorang mencapai keberhasilan, semakin besar pula rasa tidak aman yang muncul dalam dirinya. Mereka kerap merasa belum cukup baik meski bukti keberhasilan terlihat jelas.

“Itu yang disebut imposter syndrome. Ini sepenuhnya alami,” ujarnya. Ia menegaskan perasaan tersebut justru jarang muncul pada orang yang benar-benar tidak kompeten.

Brooks menjelaskan individu yang sehat secara psikologis mampu melihat kekuatan sekaligus kelemahannya secara jujur. Sementara orang lain biasanya hanya melihat sisi keberhasilan yang tampak di permukaan.

Kondisi itu diperkuat oleh kecenderungan psikologis yang membuat seseorang lebih fokus pada kekurangan diri. Pola pikir tersebut mendorong individu mengkritik diri lebih keras dibandingkan orang lain.

Brooks mengingatkan agar rasa ragu tidak berubah menjadi penghalang untuk melangkah. “Lean into the imposter syndrome without giving in to it,” katanya.

Ia menilai imposter syndrome dapat menjadi peluang untuk bertumbuh. Kesadaran atas keterbatasan diri mendorong seseorang terus belajar dan memperbaiki kemampuan.

Sebaliknya, Brooks memperingatkan karakter dark triad yang mencakup narsisme, manipulasi, dan kurang empati. Individu dengan kecenderungan tersebut cenderung percaya diri berlebihan tanpa refleksi diri.

Menurutnya, keraguan atas keberhasilan justru menunjukkan adanya kerendahan hati. Sikap itu menjadi fondasi penting untuk berkembang secara sehat dan berkelanjutan.

Dengan memahami sisi positif imposter syndrome, profesional dapat mengelola rasa ragu menjadi energi perbaikan diri. Rasa rendah hati bukan kelemahan, melainkan pijakan untuk bertumbuh lebih kuat.

Rekomendasi Berita