Tantangan Generasi Z Lestarikan Budaya Daerah

  • 21 Feb 2026 07:39 WIB
  •  Palu

RRI.CO.ID, Palu - Perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat membawa perubahan besar dalam pola hidup generasi muda. Generasi Z, yang tumbuh di tengah arus digital dan keterbukaan budaya global, menghadapi tantangan tersendiri dalam menjaga nilai budaya, etika, serta identitas lokal di tengah derasnya pengaruh luar.

Akses tanpa batas terhadap media sosial, platform streaming, dan konten global membuat generasi ini akrab dengan budaya populer mancanegara. Fenomena musik dan gaya hidup dari Korea Selatan melalui gelombang K-pop misalnya, menjadi salah satu contoh budaya asing yang sangat digemari anak muda Indonesia.

Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran sejumlah kalangan. Mereka menilai minat generasi Z terhadap budaya lokal mulai berkurang karena dianggap kurang menarik dan tidak mengikuti perkembangan zaman. Tradisi, bahasa daerah, hingga kesenian lokal dinilai kalah bersaing dengan konten digital yang lebih modern dan visual.

Pemerhati budaya Sulawesi Tengah, Dr Hj. Ramlah M. Siri , mengatakan bahwa tantangan terbesar saat ini bukan sekadar pengaruh budaya asing, melainkan bagaimana budaya lokal mampu beradaptasi.

“Budaya asing tidak bisa kita hindari. Yang perlu dilakukan adalah mengemas budaya lokal dengan pendekatan kreatif agar relevan dengan generasi digital,” ujarnya saat dialog di Program Tesa To Kaili

Menurutnya, inovasi menjadi kunci agar budaya lokal tidak terkesan kuno atau tertinggal. Pemanfaatan media sosial, pembuatan konten kreatif, hingga kolaborasi lintas budaya dapat menjadi strategi untuk memperkenalkan kembali nilai-nilai tradisi kepada generasi muda tanpa menghilangkan esensinya.

Hal senada disampaikan pegiat literasi digital dan Dosen di Universitas Tadulako , Dr. Andi Imrah Dewi, yang menilai generasi Z justru memiliki potensi besar menjadi agen pelestarian budaya.

“Mereka terbiasa membuat konten. Jika diarahkan, mereka bisa mempromosikan tarian daerah, bahasa ibu, atau kuliner tradisional melalui platform digital,” katanya.

Ia menambahkan, penting bagi orang tua, sekolah, dan pemerintah untuk memberikan ruang edukasi yang kontekstual. Pembelajaran budaya tidak cukup hanya bersifat teoritis, tetapi perlu dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari serta perkembangan teknologi yang dekat dengan generasi Z.

Di tengah arus globalisasi, pelestarian budaya bukan berarti menolak budaya luar, melainkan memperkuat identitas lokal agar tetap berdiri sejajar. Dengan adaptasi dan inovasi, generasi Z diharapkan mampu menjaga warisan budaya sebagai bagian dari jati diri bangsa di era digital. (AL)

Rekomendasi Berita