Daging Bakso Masih Merah, Aman atau Berbahaya?
- 08 Mar 2026 09:57 WIB
- Palu
RRI.CO.ID, Palu - Warna merah pada daging yang sudah dimasak terkadang bukan semata karena proses pemasakan, tetapi bisa saja dipengaruhi oleh penggunaan bahan tambahan tertentu. dilansir dari instagram https://www.instagram.com/dokterivanhartono/ menyebutkan bahan yang akan kita bahas adalah garam sendawa atau saltpeter. Bahan kimia ini dikenal sebagai kalium nitrat (KNO₃), yakni senyawa yang secara luas digunakan di berbagai industri, termasuk sebagai pupuk, pengawet daging, hingga bahan dalam pembuatan kembang api. Senyawa ini berbentuk kristal putih dan telah lama dikenal dalam proses pengolahan daging tertentu.
Dalam industri pangan, nitrat seperti kalium nitrat memang kadang digunakan dalam proses pengawetan daging karena dapat membantu mempertahankan warna merah serta memperpanjang masa simpan. Namun penggunaannya harus mengikuti batas tertentu dan dilakukan secara hati-hati karena termasuk bahan kimia yang berpotensi berbahaya jika digunakan tidak sesuai aturan.
Jika digunakan secara berlebihan atau dikonsumsi terus-menerus dalam jangka panjang, senyawa nitrat dapat menimbulkan risiko kesehatan. Beberapa penelitian menyebutkan paparan nitrat yang tinggi dalam makanan dapat memicu gangguan kesehatan tertentu, termasuk gangguan pada darah seperti methemoglobinemia, serta berpotensi meningkatkan risiko penyakit serius lainnya.
Meski begitu, para ahli juga menekankan bahwa tidak semua daging berwarna merah setelah dimasak berarti mengandung bahan tambahan berbahaya. Warna tersebut bisa dipengaruhi oleh jenis daging, teknik memasak, atau tingkat kematangan saat dimasak. Karena itu, masyarakat tidak perlu langsung panik, tetapi tetap dianjurkan untuk lebih teliti dalam memilih makanan.
Kesadaran konsumen menjadi hal penting dalam menjaga keamanan pangan sehari-hari. Memilih tempat makan yang higienis, memastikan makanan dimasak dengan baik, serta tidak mengonsumsi makanan yang tampak mencurigakan merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko kesehatan.
Melalui edukasi seperti yang disampaikan dalam media sosial, masyarakat diharapkan semakin memahami pentingnya keamanan pangan. Dengan mengetahui potensi bahan tambahan dalam makanan, konsumen dapat lebih bijak dalam memilih dan menikmati kuliner tanpa mengabaikan aspek kesehatan.