Musik Tradisi Bersatu Hadapi Tantangan Distribusi

  • 18 Feb 2026 16:19 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Di tengah dominasi platform digital, musisi Adev Chudaiva menggandeng sejumlah musisi lintas daerah dalam kolaborasi musik tradisi yang mempertemukan warna Bali, Minang, Betawi hingga Dayak.

"Meski distribusi digital semakin masif, penjualan album fisik diakui masih membutuhkan kerja keras. Di sisi lain, dukungan dari Lembaga Manajemen Kolektif (LMK) serta perhatian dari Kementerian Pendidikan memberi angin segar bagi pelestarian musik tradisi." papar Adev Chudaiva pada Obrolan Komunitas di Pro 4 RRI Pekanbaru Rabu, 18 Februari 2026 pagi.

Adev menjelaskan kolaborasi tersebut melibatkan Oji (Bali), Rolan (Minang), Yuda (Betawi), Afrijal, Widat, Fadli Pananawa, serta Hendri Sape dari komunitas Dayak yang dikenal dengan konsep “main safe” dalam mengemas musik etnik agar tetap autentik namun adaptif dengan selera masa kini.

“Musik tradisi punya ruh yang kuat. Tantangannya bukan pada kualitas karya, tetapi bagaimana distribusinya. Untuk rilisan fisik, memang perlu kerja keras ekstra,” ujar Adev

Menurutnya, pasar album fisik kini lebih spesifik, menyasar kolektor dan penikmat musik yang menghargai nilai dokumentasi dan eksklusivitas. Biaya produksi, distribusi, hingga promosi menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi musisi independen yang mengangkat genre tradisi.

Namun demikian, perkembangan positif terlihat dari meningkatnya antusiasme Lembaga Manajemen Kolektif dalam mendukung karya-karya musik tradisional. LMK dinilai mulai aktif mendorong perlindungan hak cipta serta distribusi royalti bagi musisi daerah, sehingga ekosistem musik tradisi memiliki fondasi hukum dan ekonomi yang lebih jelas.

Selain itu, perhatian dari Kementerian Pendidikan terhadap penguatan kebudayaan juga mulai terasa. Program-program yang mengintegrasikan seni tradisi dalam ruang pendidikan dinilai membuka peluang regenerasi musisi serta memperluas apresiasi generasi muda terhadap karya etnik.

Kolaborasi lintas daerah ini diharapkan tidak hanya menghasilkan karya rekaman, tetapi juga membuka ruang pertunjukan dan distribusi yang lebih luas, baik dalam format digital maupun fisik. Adev menegaskan, rilisan fisik tetap memiliki nilai simbolik sebagai arsip budaya.

“Album fisik itu bukan sekadar produk. Ia adalah dokumentasi sejarah. Di situlah identitas kita tersimpan,” katanya.

Dengan sinergi antar-musisi, dukungan kelembagaan, serta perhatian pemerintah, musik tradisi dinilai memiliki peluang besar untuk tetap relevan di era digital. Tantangan distribusi fisik memang nyata, tetapi komitmen menjaga warisan budaya menjadi alasan utama para musisi untuk terus berkarya lintas batas daerah.

Rekomendasi Berita