Dekontemporerisasi Kebudayaan Jadi Sorotan Diskusi RRI Pekanbaru

  • 10 Mar 2026 15:15 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Fenomena perubahan bentuk kebudayaan di tengah perubahan demografi masyarakat menjadi topik utama dalam Obrolan Komunitas Pro 4 RRI Pekanbaru, Selasa pagi 10 Maret 2026. Dalam diskusi tersebut, narasumber Riyono Gede Trisoko, dari Laboratorium Budaya Anak Negeri Alam Mayang, mengangkat konsep dekontemporerisasi kebudayaan sebagai bagian dari perjalanan psikologi positif manusia dalam memenuhi kebutuhan sosialnya.

Menurut Riyono, dekontemporerisasi kebudayaan merupakan proses ketika manusia sebagai pelaku sosial berupaya menemukan makna kehidupan melalui berbagai ekspresi budaya yang terus berubah mengikuti masyarakat pendukungnya.

Ia menjelaskan, selama ini muncul anggapan kebudayaan perlahan hilang. Namun dari berbagai diskusi yang dilakukan bersama pelaku budaya, justru terlihat bahwa kebudayaan tidak benar-benar lenyap, melainkan sedang mencari bentuk baru yang sesuai dengan perkembangan zaman dan dinamika sosial masyarakat.

“Sering kita mengatakan kebudayaan sudah hilang. Padahal sebenarnya kebudayaan itu sedang mencari bentuknya sendiri sesuai dengan masyarakat pendukungnya,” ujarnya.

Riyono menambahkan, perubahan demografi turut mempengaruhi proses tersebut. Saat ini, jumlah masyarakat usia produktif mulai meningkat, khususnya pada rentang usia 18 hingga 45 tahun. Sementara generasi yang selama ini menjadi pewaris kebudayaan tradisional, yakni kelompok usia di atas 50 tahun, semakin berkurang.

Kondisi ini, menurutnya, secara otomatis memengaruhi cara masyarakat menjalani kehidupan sosial dan budaya. Pergeseran generasi membuat pola pewarisan nilai budaya mengalami perubahan, sekaligus membuka ruang bagi munculnya bentuk-bentuk ekspresi budaya baru.

Dalam kesempatan yang sama, Riyono juga menjelaskan keberadaan Laboratorium Budaya Anak Negeri Alam Mayang, sebuah wadah berkumpulnya para pelaku budaya dari berbagai latar belakang suku yang memiliki kecintaan terhadap kebudayaan.

Ia menyebutkan, komunitas tersebut telah memiliki mandat sejak lama dan berdiri sejak tahun 2005. Namun, dalam tiga tahun terakhir kegiatan komunitas ini semakin aktif dan menemukan titik emosional yang kuat dalam gerakan pengembangan budaya di masyarakat.

Laboratorium budaya tersebut secara rutin menginisiasi berbagai kegiatan seni dan budaya yang terbuka bagi masyarakat luas. Aktivitas yang dilakukan lebih banyak berfokus pada kegiatan seni yang dapat dinikmati oleh berbagai kelompok masyarakat, sehingga kebudayaan tetap hidup dan relevan di tengah perubahan zaman.

Melalui berbagai kegiatan tersebut, para pelaku budaya berharap masyarakat dapat melihat bahwa kebudayaan tidak berhenti pada masa lalu, melainkan terus berkembang mengikuti dinamika kehidupan sosial masyarakatnya.

Rekomendasi Berita