Humor sebagai Senjata Ampuh dalam Komunikasi
- 19 Feb 2026 16:36 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Humor bukan sekadar celetukan spontan yang mengundang tawa. Dalam dunia komunikasi, humor adalah strategi.
Hal inilah yang dibahas dalam program Sore Ceria Pro 2 Pekanbaru bersama Gegana Agung Putra, seorang spesialis komunikasi pemasaran sekaligus pegiat stand up comedy pada Jumat, 13 Februari 2026.
Menurutnya, humor memiliki kekuatan untuk meleburkan batas. Ketika dua orang tertawa pada hal yang sama, jarak di antara mereka otomatis mengecil.
Dalam konteks komunikasi pemasaran, ini menjadi pintu masuk yang efektif. Audiens yang sudah merasa terhibur cenderung lebih terbuka menerima pesan yang disampaikan.
Dalam dunia stand up comedy sendiri, humor ternyata bukan soal “asal bunyi”. Ada teknik, ada struktur, bahkan ada hitungan.
Para komika mengenal istilah LPM (Laugh Per Minute) atau jumlah tawa per menit. Standar minimalnya adalah empat tawa dalam satu menit. Artinya, membangun kelucuan membutuhkan perencanaan, bukan sekadar spontanitas.
Lebih jauh, humor juga menuntut kepekaan terhadap keresahan audiens. Komika disarankan membawakan materi yang dekat dengan pengalaman pribadinya agar terasa otentik.
Perspektif yang jujur dan relevan membuat pesan lebih mudah diterima. Tema seperti percintaan, kemiskinan, atau keresahan sosial sering diangkat karena dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Dalam praktik profesional, humor speaking bukan hanya untuk komika. Public speaker, penyiar radio, hingga content creator media sosial dapat memanfaatkannya.
Materi berat yang dibalut humor cenderung lebih mudah dicerna. Audiens tidak merasa digurui, tetapi diajak berdiri di level yang sama sebelum pesan inti disampaikan.
Intinya, humor adalah jembatan. Ia membuat komunikasi terasa ringan tanpa kehilangan substansi. Bagi siapa pun yang ingin pesannya “nempel” di kepala audiens, menguasai seni berbicara humoris adalah keterampilan yang layak diasah.