Dari Stand Up ke Marketing: Perjalanan Humor yang Bertumbuh
- 19 Feb 2026 16:39 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Siapa sangka dari panggung Stand Up Comedy beralih ke dunia marketing yang ternyata membuka babak baru dalam kehidupannya, dalam obrolan di Sore Ceria Pro 2 Pekanbaru bersama dengan Gegana Agung Putra, seorang Praktisi Komunikasi Pemasaran sekaligus pegiat Stand Up Comedy pada Jumat, 13 Februari 2026.
Ia menceritakan perjalanannya di dunia humor dimulai sejak masa kuliah. Ia ikut membangun komunitas stand up comedy kampus pertama di Pekanbaru sekitar tahun 2012. Dari panggung kampus hingga komunitas kota, pengalaman tersebut membentuk cara pandangnya terhadap humor.
Menariknya, materi komedi seseorang ikut tumbuh seiring usia. Saat masih mahasiswa, tema percintaan mendominasi. Setelah menikah dan menjadi ayah, perspektifnya bergeser ke isu sosial dan politik. Ini menunjukkan bahwa humor bukan sesuatu yang statis; ia berkembang bersama pengalaman hidup.
Pertanyaan klasik pun muncul: apakah humor itu bakat atau bisa dilatih? Jawabannya, dua-duanya. Ada yang berbakat sejak awal, tetapi tanpa latihan tak akan berkembang. Sebaliknya, mereka yang merasa tidak berbakat tetap bisa menjadi hebat jika terus mengasah diri.
Dalam dunia radio, tantangan humor menjadi lebih unik. Tanpa visual, penyiar harus mampu membuat pendengar “melihat” lewat kata-kata. Kuncinya adalah memahami segmentasi usia dan keresahan audiens. Misalnya, untuk rentang usia 15–30 tahun, topik yang relevan akan lebih mudah menciptakan resonansi.
Di ranah marketing communication, humor kembali memainkan peran strategis. Ketika audiens tertawa bersama komunikator, secara psikologis mereka sudah berada dalam satu frekuensi. Di situlah pesan promosi lebih mudah masuk. Humor menjadi pembuka jalan sebelum substansi disampaikan.
Namun, humor juga berada di wilayah abu-abu. Multitafsir bisa terjadi. Seorang komika atau pembicara perlu siap dengan “counter narasi” jika ada audiens yang menanggapi berbeda. Dari situlah proses belajar dan penyempurnaan materi berlangsung.
Pada akhirnya, humor bukan hanya tentang membuat orang tertawa. Ia adalah alat komunikasi yang efektif, alat pemasaran yang strategis, dan bahkan cermin perjalanan hidup seseorang. Ketika digunakan dengan tepat, humor mampu membuat pesan yang berat terasa ringan dan tetap bermakna.