Batasi Kue Lebaran Demi Kesehatan Jantung dan Gula

  • 10 Mar 2026 10:00 WIB
  •  Pekanbaru

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Momen Idulfitri selalu identik dengan kehangatan silaturahmi yang ditemani deretan stoples kue kering di meja tamu. Mulai dari nastar, kastengel, hingga putri salju, semuanya seolah menggoda untuk dicicipi satu per satu.

Namun, di balik kelezatannya, tersimpan risiko kesehatan yang mengintai jika kita kehilangan kendali saat mengonsumsinya secara berlebihan selama hari raya. Kue lebaran umumnya tergolong sebagai makanan padat kalori namun rendah nutrisi.

Bahan utamanya yang terdiri dari tepung terigu, mentega, dan gula pasir merupakan kombinasi "maut" bagi kadar gula darah dan kolesterol. Mengonsumsi tiga butir nastar saja setara dengan kalori satu piring nasi, sehingga tanpa sadar, asupan energi harian kita bisa melonjak drastis melampaui kebutuhan normal tubuh.

Lonjakan asupan gula dan lemak trans dari margarin dapat memicu inflamasi serta penumpukan lemak dalam tubuh. Bahaya kesehatan yang paling nyata adalah peningkatan risiko obesitas, diabetes melitus tipe 2, serta gangguan jantung. Tubuh yang baru saja beradaptasi dengan pola makan teratur saat puasa Ramadan bisa mengalami "kejutan" metabolisme jika langsung dibombardir makanan manis dan berlemak.

Mengutip dari laman resmi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), batasan konsumsi gula harian yang dianjurkan adalah 50 gram atau setara dengan 4 sendok makan. Mengingat satu keping kue kering bisa mengandung banyak gula tersembunyi, sangat disarankan untuk membatasi konsumsi kue lebaran maksimal 2-3 keping saja per hari agar tidak melampaui ambang batas aman tersebut.

Selain membatasi jumlah, penting bagi kita untuk tetap memperhatikan asupan serat dari sayur dan buah selama perayaan Idulfitri. Serat berfungsi untuk mengikat lemak jahat dan membantu menstabilkan lonjakan gula darah setelah makan kue. Jangan lupakan juga untuk memperbanyak minum air putih guna membantu ginjal memproses sisa metabolisme makanan manis yang masuk ke dalam sistem pencernaan.

Menikmati hidangan khas hari raya tentu diperbolehkan sebagai bentuk rasa syukur, namun moderasi adalah kunci utamanya. Jangan sampai momen kemenangan yang suci justru berakhir dengan keluhan kesehatan yang merugikan di kemudian hari. Tetaplah bijak dalam memilih camilan agar tubuh tetap bugar dan siap kembali beraktivitas secara produktif setelah libur lebaran usai.

Rekomendasi Berita