Puisi: Lain Ladang Lain Belalang, Lain Lubuk Lain Ikannya

  • 05 Mar 2026 23:06 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Di negeri yang luas, dari hulu sungai hingga pesisir laut, manusia hidup dengan cara yang berbeda-beda. Perbedaan itu bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk dipahami. Seperti pepatah lama yang bijak mengingatkan: lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Di situlah kita belajar bahwa setiap tempat memiliki adat, kebiasaan, dan cara hidupnya sendiri.

Di tanah yang berbeda

angin membawa cerita yang tak sama,

langkah manusia menapaki jalan

dengan cara yang telah lama dijaga.

Di ladang yang satu

belalang melompat di antara padi menguning,

di ladang yang lain

suara serangga menyatu dengan angin yang asing.

Sungai mengalir ke lubuk yang berbeda,

airnya tenang namun menyimpan makna,

di sana ikan berenang dengan cara sendiri

mengikuti arus yang telah dikenalnya.

Begitulah manusia di dunia luas ini,

hidup dalam ragam kebiasaan dan warna tradisi,

ada yang bersuara lantang di tengah ramai,

ada pula yang memilih sunyi untuk memahami diri.

Perbedaan bukanlah jurang yang memisahkan,

melainkan jembatan untuk saling mengerti,

sebab dari setiap tempat kita belajar

bahwa kearifan lahir dari keberagaman yang dihargai.

Lain ladang, lain belalangnya,

lain lubuk, lain pula ikannya,

namun di bawah langit yang sama

kita tetap saudara dalam cerita kehidupan.

Pepatah lama itu mengajarkan kita satu hal sederhana namun dalam: memahami perbedaan adalah kunci kebijaksanaan. Sebab ketika kita mampu menghargai cara hidup orang lain, di situlah persaudaraan tumbuh. Maka, biarlah ladang berbeda dan lubuk tak sama, tetapi hati kita tetap satu dalam saling menghormati.

Baca juga: 5 Pantun Nasehat: Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama

Rekomendasi Berita