Bahasa Indonesia Hadapi Tantangan Serius di Era Digital
- 23 Feb 2026 11:50 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak – Perkembangan teknologi digital membawa pengaruh besar terhadap penggunaan bahasa Indonesia di ruang publik. Media sosial, platform konten, hingga pesan instan membuat bahasa Indonesia berkembang cepat, namun di sisi lain menghadirkan tantangan serius terhadap ketepatan dan kesantunan berbahasa.
Hal tersebut disampaikan Duta Bahasa Provinsi Kalimantan Barat, di acara Insightainment RRI Pro2 Pontianak, Rabu, 18 Februari 2026, yang membahas tema Bahasa Indonesia di Era Digital: Tantangan dan Peluang.
Duta Bahasa Kalbar 2024, Zira Patia, menilai masyarakat digital cenderung mengutamakan kecepatan dibandingkan ketepatan berbahasa.
“Di ruang digital, banyak orang hanya mengejar cepat dan viral, tapi melupakan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar,” ujar Zira.
Menurutnya, fenomena campur kode berlebihan, dominasi istilah asing, serta menurunnya literasi menjadi tantangan nyata yang dihadapi bahasa Indonesia saat ini. Padahal, bahasa Indonesia merupakan identitas bangsa yang seharusnya dijaga, termasuk di ruang digital.
Sementara itu, Duta Bahasa Kalbar 2025, Aura Nafisah, menegaskan bahwa era digital juga membuka peluang besar bagi penguatan bahasa Indonesia. Konten digital dinilai mampu menjangkau audiens global dan menjadi sarana edukasi kebahasaan yang efektif.
“Era digital justru peluang besar. Bahasa Indonesia bisa dikenal luas lewat konten edukatif, kreatif, dan relevan dengan anak muda,” kata Aura.
Ia menambahkan, munculnya kosakata dan istilah baru di media sosial perlu disikapi secara bijak. Kreativitas bahasa boleh berkembang, namun tetap harus memahami makna serta kaidah kebahasaan yang tepat.
Peran kreator konten pun dinilai sangat strategis dalam membentuk tren bahasa. Bahasa yang digunakan influencer dan pembuat konten kerap ditiru masyarakat, terutama generasi muda.
“Kreator konten itu pembentuk bahasa. Kalau mereka menggunakan bahasa yang santun dan tepat, masyarakat juga akan ikut,” ucap Aura.
Sebagai Duta Bahasa, keduanya menegaskan komitmen untuk menjadi teladan di ruang digital melalui konten yang edukatif, ramah, dan berkaidah. Mereka menekankan bahwa duta bahasa bukan penghakim, melainkan penggerak yang mengajak masyarakat mencintai bahasa Indonesia secara relevan dengan perkembangan zaman.
“Kami ingin bahasa Indonesia tetap hidup, kuat, dan bermartabat di tengah arus globalisasi digital,” Ujar keduanya, mengakhiri.