Memahami Asal-Usul NPD (Narcissistic Personality Disorder)
- 28 Feb 2026 10:00 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Pernah nggak sih kamu bertanya, kenapa ada orang yang terlihat sangat percaya diri, selalu ingin dikagumi, tapi di saat yang sama terasa begitu sulit berempati? Atau bahkan kamu bertanya, kok bisa seseorang sampai berkembang menjadi NPD? Narcissistic Personality Disorder (NPD) adalah gangguan kepribadian yang secara resmi tercantum dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5-TR) yang diterbitkan oleh American Psychiatric Association.
Secara klinis, NPD ditandai oleh pola menetap berupa grandiositas (merasa diri sangat penting), kebutuhan berlebihan untuk dikagumi, serta kurangnya empati, yang mulai tampak sejak awal masa dewasa dan hadir di berbagai konteks kehidupan. Jadi ini bukan sekadar “percaya diri kebablasan” atau hobi pamer, tapi pola kepribadian yang kaku dan konsisten, yang bisa mengganggu relasi dan fungsi sosial seseorang.
Kalau ditarik ke akar perkembangan, banyak literatur psikologi kepribadian sepakat bahwa pengalaman masa kecil punya peran besar. Dalam teori relasi objek dan pendekatan psikodinamik, anak membangun konsep diri dari interaksi awal dengan pengasuh. Ketika pola asuh terlalu memuja tanpa dasar realistis, atau justru sangat kritis dan meremehkan, anak bisa mengembangkan apa yang disebut “false self”.
False self adalah suatu identitas yang dibentuk untuk bertahan. Di luar terlihat superior, tapi di dalam rapuh. Harga diri jadi sangat bergantung pada validasi eksternal karena sejak awal ia tidak belajar membangun self-worth yang stabil dari dalam. Selain pola asuh, pengalaman trauma dan pengabaian emosional juga sering muncul dalam riwayat individu dengan NPD.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa rasa malu yang mendalam (core shame) dan perasaan tidak cukup berharga dapat mendorong terbentuknya mekanisme pertahanan berupa grandiositas. Jika dilihat dari teori attachment, keterikatan yang tidak aman seperti tipe avoidant atau disorganized, nantinya bisa membuat seseorang sulit mempercayai orang lain sekaligus sulit mengakses empatinya sendiri. Jadi sikap dingin atau manipulatif yang terlihat di permukaan sering kali merupakan strategi bertahan, bukan sekadar sifat “jahat”.
Dari sisi biologis, studi neuropsikologi menemukan adanya kemungkinan perbedaan pada area otak yang berkaitan dengan empati dan regulasi emosi. Faktor genetik juga berkontribusi terhadap temperamen dasar, seperti sensitivitas terhadap penghargaan atau kebutuhan akan dominasi sosial. Artinya, ada individu yang memang memiliki kerentanan bawaan tertentu, dan ketika bertemu dengan lingkungan yang tidak suportif, risiko berkembang menjadi pola NPD menjadi lebih besar. Jadi ini bukan soal salah asuh semata, melainkan interaksi kompleks antara nature dan nurture.
Lingkungan sosial juga berperan dalam hal ini. Budaya yang menekankan pencapaian, status, citra diri, dan eksposur publik secara tidak langsung memberi “panggung” bagi ekspresi narsistik. Namun penting dicatat, lingkungan seperti ini biasanya hanya memperkuat kecenderungan yang sudah ada, bukan menciptakan NPD dari nol. Pada akhirnya, NPD hampir selalu lahir dari kombinasi faktor perkembangan awal, trauma, kerentanan biologis, dan pengaruh budaya.
Dan satu hal yang tidak kalah penting yaitu tidak semua orang yang terlihat percaya diri, suka dipuji, atau punya beberapa ciri narsistik otomatis mengalami NPD. Gangguan kepribadian hanya bisa ditegakkan melalui asesmen profesional oleh psikolog atau psikiater. Self-diagnose berdasarkan konten media sosial atau potongan informasi justru berisiko membuat kita salah paham, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain.