Luka Tak Terlihat Bisa Picu Trauma Psikologis Berkepanjangan Serius
- 14 Mar 2026 11:10 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak – Luka tidak selalu tampak secara fisik. Banyak orang mengalami luka batin yang tidak terlihat, namun dampaknya bisa jauh lebih lama dan mempengaruhi kehidupan sehari-hari.
Hal tersebut menjadi pembahasan dalam program Ronda (Ruang Obrolan Pro 2) Pontianak, Kamis, 5 Maret 2026, yang menghadirkan Nana Selviana sebagai narasumber. Ia menjelaskan bahwa luka batin sering muncul dari pengalaman yang menyakitkan dan meninggalkan trauma mendalam.
“Kadang ada luka yang memang tidak terlihat secara fisik, tapi ketika seseorang mengingat suatu kejadian, perasaannya bisa kembali sakit dan sulit dijelaskan dengan kata-kata,” ujar Nana.
Menurutnya, luka batin berbeda dengan luka fisik yang biasanya dapat sembuh dalam hitungan minggu. Luka emosional justru dapat membekas lama bahkan hingga seseorang dewasa jika tidak ditangani dengan baik.
Ia menambahkan bahwa trauma tersebut bisa dipicu oleh berbagai faktor, baik dari lingkungan sekitar maupun pengalaman pribadi yang tidak menyenangkan.
“Luka yang tidak terlihat ini bisa berasal dari faktor internal maupun eksternal. Misalnya seseorang merasa tidak mendapatkan perhatian dari orang terdekat atau mengalami perlakuan yang memanfaatkan kelemahannya,” kata Nana.
Nana juga menyoroti fenomena “child grooming”, yakni tindakan manipulasi terhadap anak di bawah umur agar mengikuti keinginan pelaku. Anak-anak dinilai menjadi kelompok yang paling rentan karena belum memiliki kemampuan mengambil keputusan secara matang.
“Anak-anak itu rentan dimanipulasi. Kadang mereka menganggap itu bentuk perhatian atau kasih sayang, padahal sebenarnya itu manipulasi yang bisa meninggalkan luka psikologis,” katanya.
Secara psikologis, korban yang mengalami luka batin atau manipulasi biasanya menunjukkan tanda-tanda seperti kehilangan kepercayaan diri, merasa dirinya tidak berharga, hingga kesulitan bersosialisasi dengan orang lain. Untuk mencegah hal tersebut, peran orang tua dan lingkungan sangat penting dalam memberikan pengawasan serta komunikasi terbuka dengan anak.
“Orang tua perlu tahu dengan siapa anak bergaul dan aktivitas apa saja yang mereka lakukan. Pengawasan bukan berarti mengekang, tapi memastikan anak tetap berada di lingkungan yang sehat,” ujarnya.
Jika seseorang merasa mengalami luka batin atau menjadi korban manipulasi, Nana menyarankan agar segera mencari bantuan profesional seperti psikolog agar kondisi mental dapat ditangani dengan tepat.
Baca juga: Remaja, Media Sosial, dan Tren Penyalahgunaan Obat Makin Mengkhawatirkan