Tumis Bayam di Atas Piring Blirik
- 04 Feb 2026 14:46 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Disajikan di atas piring seng (enamel) bermotif "blirik" hijau, sebuah benda pusaka yang kini makin jarang dijumpai. Tumis bayam ini tampak begitu menggoda, uap panas masih mengepul tipis. Warna hijau sayuran yang masih segar berpadu kontras dengan irisan cabai merah dan bawang bombay yang layu namun renyah.
Kekuatan masakan Ibu Subianti terletak pada kesederhanaannya. Tidak menggunakan bumbu yang rumit. Hanya bawang, cabai, sedikit saus tiram, dan sejumput garam. Namun, ketika suapan pertama menyentuh lidah, ada ledakan rasa gurih yang pas, tekstur batang bayam yang masih crunchy, dan kuah 'nyemek' yang begitu nikmat jika disiramkan ke atas nasi putih hangat.
Ada rahasia yang tidak tertulis dalam resep manapun rasa itu "ketulusan". Masakan seorang istri yang memasak untuk menyambut kedatangan suami dan anak-anaknya. Masakan yang selalu dibumbui dengan kasih sayang. Itulah yang membuat "Tumis Bayam Ibu Subianti" ini terasa jauh lebih lezat dibandingkan masakan restoran manapun. Makan siang di rumah sendiri apalagi di hari libur. Bukan sekadar ritual mengisi perut semata. Ia adalah momen berbagi cerita, tertawa lepas, dan mempererat ikatan yang mungkin sempat terpisahkan karena kesibukan. Piring "blirik" hijau itu menjadi saksi bisu betapa makanan sederhana mampu menghangatkan suasana dan menyatukan hati.
Di tengah gempuran makanan modern dan cepat saji, kita sering lupa bahwa kemewahan sejati justru sering ditemukan dalam kesederhanaan masakan rumahan. Masakan yang diolah dari bahan-bahan lokal, dimasak dengan cara tradisional, dan disajikan dengan penuh cinta.
Tumis bayam Ibu Subianti hanyalah satu dari jutaan kekayaan rasa yang dimiliki Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke, setiap dapur keluarga memiliki ceritanya sendiri, memiliki "tangan ajaib" sendiri.
Jangan ragu untuk kembali ke dapur, memasak resep turun-temurun, atau sekadar pulang ke rumah orang tua untuk menikmati masakan mereka. Karena mencintai kuliner nusantara, berarti mencintai identitas kita sendiri. "Selamat makan, dan jangan lupa bersyukur atas nikmat rasa hari ini".