Lengger Banyumas: Identitas Daerah yang Terus Hidup

  • 02 Mar 2026 07:18 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto : Banyumas bukan hanya dikenal dengan logat ngapaknya yang khas dan ragam kulinernya. Namun, Banyumas juga memiliki kesenian tradisional yang kuat dan masih bertahan hingga sekarang, yakni lengger. Di tengah gempuran budaya populer dan perkembangan media sosial, lengger tetap hadir dan terus diperkenalkan kepada generasi muda.

Pada saat ini bahwa masih banyak masyarakat khususnya masyarakat Banyumas yang salah memahami arti lengger. Lengger bukan nama sebuah tarian seperti yang sering disebut orang selama ini, tetapi pelaku tariannya.

“Lengger itu bukan nama tarian. Lengger itu pelakunya. Jadi yang ada itu lenggernya nari apa? Makanya, kadang orang salah persepsi. Musiknya yang pakai calung Banyumasan. Tariannya banyak, ada Gunung Sari, Eling-eling, Renggong dan lain-lain,” ujar Satria Setyanugraha, Juara 1 Kakang Banyumas tahun 2005 yang masih aktif sebagai aktivis budaya.

Dalam satu pertunjukan lengger ada dua unsur penting yang tidak bisa dipisahkan, yakni tari dan musik. Musik pengiringnya menggunakan calung Banyumasan, yang terbuat dari bambu dan menjadi ciri khas daerah. Sementara jenis tari yang dibawakan bisa berbeda-beda, tergantung acara dan konsep pementasan.

Lengger dulunya sangat dekat dengan kehidupan masyarakat bahkan bentuk dari identitas Kabupaten Banyumas. Kesenian ini muncul sebagai bagian dari tradisi dan bentuk rasa syukur. Saat masyarakat menggelar hajatan atau panen, lengger menjadi bagian dari perayaan tersebut.

Namun seiring waktu, lengger ikut berkembang. Jika dulu lebih kental dengan unsur tradisi, sekarang lengger juga bisa dikemas sebagai seni pertunjukan yang lebih modern. Meski begitu, menurutnya, akar dan ciri khas Banyumas tetap harus dijaga agar tidak hilang.

Harapannya generasi muda untuk kedepan tidak malu untuk mengenal dan mempelajari kesenian daerahnya sendiri. Lengger bukan hanya soal menari di atas panggung, tetapi tentang menjaga identitas Banyumas agar tetap hidup di tengah perubahan zaman. (Dwinanda)

Rekomendasi Berita