Ketangguhan Perempuan di Balik Peran Berlapis

  • 03 Mar 2026 14:45 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto : Perempuan dinilai wajar saat merasa lelah di tengah peran berlapis yang dipikul setiap hari. Kondisi tersebut dibahas oleh Kepala TKIT Cita Mulia Ajibarang, Astuti Setianingsih, S.Pd. dalam program Pengarusutamaan Gender oleh RRI Purwokerto.

Astuti menyampaikan bahwa perempuan tidak harus selalu kuat dalam berbagai kondisi. Rasa lelah merupakan hal wajar yang dirasakan oleh setiap orang, termasuk perempuan yang kerap menjalani peran berlapis. Ia menekankan bahwa perempuan juga memiliki batas kemampuan fisik dan emosional. Kondisi tersebut perlu disadari untuk menghindari lelah fisik dan emosi yang berkepanjangan.

“Perempuan itu kadang merasa lelah. Bisa lelah karena apa? Karena perempuan itu adalah manusia, sangat wajar ketika merasa seperti itu. Karena kembali lagi, ketika kita merasa lelah, kita istirahat, kemudian mendekatkan diri kepada Allah seperti itu,” jelasnya.

Astuti menambahkan bahwa ketangguhan seorang perempuan bukan berarti tidak pernah jatuh, melainkan dimaknai sebagai kemampuan untuk bangkit dan beradaptasi. Di samping peran yang berlapis, perempuan perlu menetapkan skala prioritas, berani berkata cukup, memberi ruang untuk beristirahat, serta merawat diri sebagai kunci utama agar tetap merasa kuat tanpa kehilangan jati diri.

Selain upaya pribadi, dukungan keluarga dan lingkungan dinilai sangat berpengaruh. Perempuan perlu bekerja sama dan meminta bantuan ketika membutuhkan sesuatu. Salah satunya dalam urusan rumah tangga dan keluarga, di mana keharmonisan tidak seharusnya bergantung pada satu peran. Kerja sama antara beberapa anggota keluarga menjadi kunci keseimbangan peran.

Astuti juga menyinggung terkait rasa dihargai yang diperoleh dari orang lain. perempuan kerap merasa lelah ketika usaha dan pikirannya tidak dihargai. Dalam hal ini, ia menjelaskan bahwa ketangguhan juga ditunjukkan dengan tidak selalu mengikuti ekspektasi orang lain. Menghargai diri sendiri merupakan bentuk perlindungan mental yang perlu diterapkan. Astuti mengajak perempuan untuk menghargai proses diri masing-masing karena setiap perempuan memiliki perjalanan dan tantangan yang berbeda.

“Dapat sanjungan di orang itu menyenangkan sekali. Tapi kalau menurut saya, kita lebih tahu batasan kita, kemudian kita juga menghargai diri kita, karena yang mau menghargai kita ya diri kita sendiri seperti itu. Tidak terlalu mengikuti ekspektasi orang di luar sana,” pungkasnya. (Ninda)

Rekomendasi Berita