Mahasiswa KKN UNU Purwokerto Perkenalkan Budidaya Maggot
- 10 Feb 2026 16:26 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Purwokerto memperkenalkan budidaya maggot sebagai inovasi pengolahan sampah organik di Desa Kedondong, Kecamatan Sokaraja, Kabupaten Banyumas. Program ini pertama kali dilaksanakan di desa tersebut dan mendapat perhatian dari masyarakat setempat.
Budidaya maggot memanfaatkan larva lalat tentara hitam (Black Soldier Fly) yang memiliki kandungan protein tinggi dan berpotensi dijadikan pakan ternak alternatif. Selain bernilai ekonomi, metode ini juga dikenal ramah lingkungan karena mampu mengurai sampah organik rumah tangga secara cepat.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKN bekerja sama dengan warga dengan memanfaatkan lahan yang disediakan masyarakat sebagai lokasi budidaya. Sampah organik dari rumah tangga dikumpulkan dan digunakan sebagai media pertumbuhan maggot. Dari proses tersebut, dihasilkan larva yang dapat dipanen dan dimanfaatkan sebagai pakan ternak seperti ayam dan ikan.

Salah satu mahasiswa KKN UNU Purwokerto, Farizal, menyampaikan bahwa program ini bertujuan memberikan solusi nyata bagi permasalahan sampah sekaligus membuka peluang usaha baru.
“Melalui budidaya maggot ini, kami ingin menunjukkan bahwa sampah organik bisa diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat dan bernilai jual bagi masyarakat,” ujarnya.
Tak hanya praktik budidaya, mahasiswa juga memberi edukasi kepada warga mengenai manfaat maggot, tahapan pemeliharaan, hingga cara panen yang benar. Kegiatan tersebut disambut antusias oleh warga karena dinilai mudah diterapkan dan tidak membutuhkan biaya besar.
Kehadiran budidaya maggot di Desa Kedondong diharapkan dapat menjadi langkah awal pengelolaan sampah organik yang lebih produktif. Selain membantu menjaga kebersihan lingkungan, program ini juga berpotensi menjadi usaha tambahan bagi masyarakat apabila dikelola secara berkelanjutan.
Mahasiswa KKN berharap inovasi ini dapat terus dikembangkan oleh warga meski masa pengabdian telah berakhir, sehingga manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang oleh masyarakat desa.