Love Scamming Picu Trauma Psikologis dan Kerugian Finansial
- 23 Feb 2026 09:48 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas: Fenomena love scamming atau penipuan asmara daring kian marak dan memakan korban dari berbagai kalangan. Modus ini tidak sekadar menyasar aspek finansial, tetapi juga memanfaatkan celah emosional korban melalui relasi palsu yang dibangun secara intens di ruang digital.
Wakil Ketua Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Jawa Tengah, Ugung Dwi Ario Wibowo, menjelaskan bahwa love scamming merupakan bentuk manipulasi psikologis yang menggunakan identitas palsu untuk membangun kedekatan emosional. Pelaku biasanya berpura-pura menyukai atau mencintai korban demi memperoleh keuntungan materi.
“Pelaku membangun hubungan emosional yang tampak dekat dan meyakinkan. Mereka menyasar orang-orang yang merasa kesepian, membutuhkan kasih sayang, atau ingin membangun relasi yang lebih intim,” ujarnya.
Menurut Ugung, sasaran utama pelaku adalah individu yang memiliki kebutuhan emosional tinggi atau trauma emosional yang belum tuntas. Dalam situasi tersebut, korban menjadi lebih rentan dimanipulasi karena merasa diperhatikan dan dihargai.
Dari sisi psikologis, dampak yang ditimbulkan tidak ringan. Korban kerap mengalami rasa malu, bersalah, hingga menyalahkan diri sendiri karena merasa tertipu atau dianggap kurang waspada. Selain itu, korban juga mengalami kerugian finansial karena motif utama pelaku adalah mendapatkan uang atau aset korban.
Dampak sosial juga dapat muncul, seperti retaknya hubungan dengan keluarga atau munculnya stigma dari lingkungan sekitar. Korban bahkan berisiko mengalami krisis kepercayaan, sehingga menjadi skeptis terhadap orang baru meskipun memiliki niat baik.
“Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi ini bisa berkembang menjadi depresi, kecemasan berlebih, bahkan gejala gangguan stres pascatrauma atau PTSD,” jelasnya.
Untuk mencegah menjadi korban, Ugung mengimbau masyarakat agar tidak mudah percaya pada orang yang baru dikenal, terutama melalui media sosial atau nomor tak dikenal. Ia menegaskan bahwa kedekatan emosional yang dibangun terlalu cepat patut diwaspadai.
“Perasaan suka dan kedekatan biasanya membutuhkan waktu. Jika baru berkenalan tetapi sudah memberikan perhatian berlebihan atau rayuan intens, itu perlu dicurigai,” katanya.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak sembarangan memberikan data pribadi seperti alamat, nomor rekening, atau informasi keluarga. Permintaan data sensitif di tahap awal perkenalan menjadi indikator kuat adanya potensi penipuan.
Ugung menegaskan pentingnya berpikir rasional dan tidak terbawa emosi saat menjalin relasi di dunia maya. Ia berharap masyarakat lebih waspada dan meningkatkan literasi digital agar terhindar dari praktik manipulasi yang merugikan secara psikologis maupun finansial.