Detoks Media Sosial untuk Kesehatan Fisik dan Mental
- 08 Feb 2026 14:52 WIB
- Sabang
RRI.CO.ID, Sabang - Di era digital saat ini, gadget telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang tidak terpisahkan. Seringnya kita menghabiskan waktu berjam-jam untuk scrolling dan berinteraksi lewat dunia maya. Tapi, pernah gak kamu merasa lelah meskipun hanya duduk diam sambil memegang ponsel? Mungkin itu tandanya kalau jempol dan pikiran kamu butuh istirahat atau yang dinamakan dengan Social Media Detox.
Pegiat Dakwah dan Inspirator Muslimah, Esti Wulansari mengatakan bahwa melakukan scrolling media sosial bisa memicu dampak psikologis, dari burn out hingga berpikiran dangkal. “Banyak dari kita sekarang ini sudah lalai dengan gadget, padahal ada sampak psiologisnya, berupa burn out, adiksi, kecemasan dan kegelisahan. Kemudian bisa menyebabkan kita berpikiran dangkal, karena seringnya mengkonsumsi konten sekilas atau informasi yang sepotong-sepotong,” ujarnya dalam dialog bersama Pro 2 Banda Aceh, Kamis 22 Januari 2026.
Selain itu, media sosial sering menjadi pemicu munculnya perasaan FOMO (Fear of Missing Out), ketakutan akan tertinggal tren atau gossip terbaru. Tanpa sadar, kita juga sering membandingkan hidup yang kita rasa biasa saja dengan kehidupan orang lain yang terlihat sempurna, sehingga menimbulkan rasa tidak percaya diri dan insecure.
Ada beberapa tanda yang menunjukkan jika kamu butuh detoks dari media sosial, seperti muncul kecemasan yang berlebihan kalau jauh dari ponsel, kemudian rasa haus validasi yaitu ingin dikomentari dan di-like postingannya. Selain itu, mulai sulit fokus dalam mengerjakan hal yang menuntut fokus tinggi seperti membaca dan aktivitas lain, sekaligus terganggunya waktu tidur karena terus-terusan terpapar informasi dan suara notifikasi.
Detoks media sosial bisa diawali dengan membatasi waktu bermain media sosial. Atur berapa lama kamu dapat membuka media sosial dan kapan saja waktu yang benar-benar bebas dari gangguan ponsel. Allihkan waktu scrolling untuk hobi yang lebih produktif dan nyata, seperti membaca buku, merawat tanaman, atau berinteraksi langsung dengan teman dan keluarga.