Melihat Sejarah Siti Rubiah

  • 20 Feb 2026 15:05 WIB
  •  Sabang

RRI.CO.ID, Sabang – Makam Siti Rubiah di Pulau Rubiah menjadi bagian penting dari jejak sejarah Islam di Kota Sabang. Situs ini tidak hanya memiliki nilai religius, tetapi juga memperkuat identitas kawasan sebagai destinasi wisata sejarah dan bahari.

Pemerhati sejarah Sabang, Albina Ar Rahman, menjelaskan Siti Rubiah merupakan istri Tengku Ibrahim atau Tengku Iboih yang dikenal sebagai ulama penyebar Islam di Pulau Weh. Ia menyebut, keberadaan makam tersebut menjadi bukti peran perempuan dalam dakwah Islam di wilayah paling barat Indonesia.

“Pulau ini dinamai dari Siti Rubiah sebagai bentuk penghormatan atas jasa beliau dalam penyebaran Islam di Pulau Weh. Beliau adalah sosok perempuan yang dihormati dan menjadi bagian penting dari sejarah keislaman Sabang,” ujar Albina, Jumat 20 Februari 2026.

Albina menambahkan, Siti Rubiah diduga berasal dari Singkil dan wafat sekitar tahun 1779 pada masa Sultan Ala’ al-Din Johan Syah dan Sultan Mahmud Syah. Makamnya berada di tepi pantai bersama beberapa makam kerabat dan pengawalnya, serta dilengkapi sumber mata air tawar yang digunakan peziarah untuk berwudu.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kota Sabang, Harry Susethia, menilai sejarah Pulau Rubiah menjadi kekuatan tersendiri dalam pengembangan sektor pariwisata daerah. Ia menyebut nilai religi dan historis mampu menjadi daya tarik tambahan selain pesona bawah lautnya.

“Sejarah Siti Rubiah dan jejak karantina haji era Hindia Belanda menjadi potensi besar untuk dikemas sebagai wisata edukatif. Ini memperkaya pengalaman wisatawan yang datang tidak hanya untuk snorkeling dan diving,” kata Harry.

Selain dikenal sebagai situs makam ulama perempuan, Pulau Rubiah juga pernah ditetapkan sebagai pusat karantina haji pertama di Nusantara pada 1920-an. Bangunan karantina tersebut sempat beralih fungsi saat pendudukan Jepang tahun 1942 dan kini menjadi saksi sejarah perjalanan haji Indonesia.

Ketua Pokdarwis Iboih, Tarmizi, mengatakan peran masyarakat khususnya pemuda sangat penting dalam menjaga kelestarian situs sejarah di pulau tersebut. Ia menegaskan keterlibatan generasi muda menjadi kunci keberlanjutan wisata berbasis sejarah dan religi.

“Kami mengajak pemuda untuk menjaga kebersihan dan menghormati nilai sejarah yang ada di Pulau Rubiah. Edukasi kepada pengunjung juga terus kami lakukan agar situs ini tetap terawat dan tidak disalahartikan,” ujar Tarmizi.

Dengan perpaduan sejarah Islam, jejak karantina haji, serta keindahan terumbu karang, Pulau Rubiah menjadi destinasi yang memiliki dimensi religi dan bahari sekaligus. Penguatan narasi sejarah diharapkan mampu menjaga warisan budaya sekaligus meningkatkan daya saing pariwisata Sabang.

Rekomendasi Berita