Sabang Miliki Alam dan Budaya yang Kaya Daya Tarik Visual
- 27 Feb 2026 02:50 WIB
- Sabang
RRI.CO.ID, Sabang- Kota Sabang memiliki potensi alam dan budaya yang dinilai memiliki daya tarik visual kuat serta layak dipromosikan lebih luas sebagai destinasi wisata unggulan. Keindahan bentang laut, perbukitan hijau, hingga kekayaan tradisi masyarakat menjadi kekuatan yang dapat mendukung pengembangan sektor pariwisata daerah.
Ketua DPRK Sabang Magdalaina mengatakan Sabang tidak hanya dikenal sebagai titik nol kilometer Indonesia tetapi juga memiliki banyak sudut yang menarik untuk diabadikan dan dipromosikan melalui berbagai platform media. Menurutnya, potensi tersebut harus dikelola secara maksimal agar memberi dampak ekonomi bagi masyarakat.
“Sabang memiliki lanskap alam yang indah, dipadukan dengan budaya lokal yang khas. Ini kekuatan besar yang harus kita jaga dan promosikan bersama agar semakin dikenal luas,” ujar Magdalaina Jumat 27 Februari 2026.
Ia menambahkan promosi pariwisata tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah tetapi membutuhkan kolaborasi berbagai pihak termasuk pelaku usaha, kelompok sadar wisata hingga generasi muda. Lanjutnya, Dokumentasi visual melalui fotografi dan konten digital dinilai menjadi salah satu strategi efektif untuk menarik minat wisatawan.
“Anak-anak muda kita punya kreativitas tinggi. Jika potensi alam dan budaya ini dikemas dengan baik melalui foto dan konten yang menarik, Sabang akan semakin kuat sebagai destinasi wisata unggulan di Aceh bahkan nasional,” katanya.
Magdalaina juga menyinggung berbagai kegiatan budaya yang digelar di Sabang, seperti Sabang Fair dan Sabang Marine Festival, yang menampilkan seni pertunjukan, parade budaya dan musik serta tarian tradisional. Kegiatan tersebut dinilai tidak hanya memperkuat identitas daerah tetapi juga menghadirkan momen visual yang menarik bagi pengunjung.
Selain itu, terdapat kebiasaan budaya daerah yang masih bertahan di tengah masyarakat, yakni budaya “Eh Leuho” atau tidur siang atau lebih dikenal dengan istilah siesta. Tradisi itu membuat sebagian besar pertokoan di pusat kota tutup pada siang hari.
“Budaya siesta di Sabang, dikenal sebagai "Eh Leuho" (tidur siang), adalah tradisi unik di mana mayoritas pertokoan di pusat kota tutup antara pukul 12.00–16.00 atau 17.00 WIB, membuat kota sepi seperti mati suri,” terangnya.
Menurutnya, kekhasan tersebut menjadi bagian dari identitas sosial yang memperkaya karakter Sabang sebagai kota wisata. Politisi Partai Aceh itu berharap seluruh elemen masyarakat ikut menjaga kelestarian alam serta nilai-nilai budaya yang ada sehingga keindahan Sabang tidak hanya tampak indah di kamera tetapi juga benar-benar dirasakan oleh setiap wisatawan yang datang.
“Ketika Lensa berbicara, Sabang semakin dikenal dunia. Bukan hanya menjadi tempat singgah tetapi destinasi yang diceritakan melalui foto,” pungkas Magdalaina.