Madrasah di Samarinda Tanamkan Akhlak dan Anti-Bullying
- 03 Mar 2026 08:46 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Penerimaan dan kenyamanan siswa disabilitas bukan semata hasil kebijakan formal, melainkan buah dari pendidikan karakter yang konsisten. Hal itu disampaikan Guru Bimbingan dan Konseling Madrasah Darussalam Internasional Samarinda, Latifah, kepada RRI dalam program Ruang Disabilitas dan Inklusi Pro1 Samarinda.
Menurutnya, lingkungan ramah disabilitas di Madrasah Darussalam Internasional Samarinda tidak hadir begitu saja. Ia menegaskan ada nilai dasar yang terus ditanamkan kepada seluruh siswa.
“Yang ditanamkan di madrasah tentu ajaran Islam. Bagaimana memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan,” ujarnya, dikutip Selasa 3 Maret 2026.
Menurut Latifah, sejak awal siswa diajarkan bahwa akhlak lebih utama dibandingkan ilmu. “Adab dulu, baru ilmu mengikuti. Itu yang ditanamkan dari awal oleh para ustaz dan ustazah,” katanya.

Selain penanaman nilai keagamaan, peran Bimbingan dan Konseling (BK) juga aktif mengampanyekan gerakan anti-perundungan. Edukasi tentang dampak bullying terus disuarakan agar menjadi kesadaran bersama, bukan sekadar aturan tertulis.
“Kami sangat menyuarakan anti-bullying. Itu tertanam dalam diri anak-anak dan menjadi perilaku mereka sehari-hari,” ucap Latifah.
Dampaknya terlihat dalam interaksi siswa. Anak-anak tidak hanya menerima teman disabilitas, tetapi juga merangkul dan membantu. Bahkan beberapa siswa belajar bahasa isyarat untuk memudahkan komunikasi dengan teman tunarungu.
“Dengan anak normal saja mereka merangkul, apalagi dengan anak disabilitas. Itu sudah menjadi budaya di sekolah,” ujarnya.
Ia menilai, penerimaan dan kenyamanan siswa disabilitas bukan semata hasil kebijakan formal, melainkan buah dari pendidikan karakter yang konsisten. Ketika empati, adab, dan penghormatan terhadap perbedaan ditanamkan sejak awal, inklusi tumbuh secara alami dalam kehidupan sekolah.