Bahasa Daerah Kian Populer di Era Digital

  • 09 Mar 2026 11:00 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Di tengah arus globalisasi, bahasa daerah kini mulai menemukan ruang di hati generasi muda. Fenomena ini bukan sekadar melestarikan tradisi, namun tentang identitas lokal yang memiliki keunikan di media sosial.

Selama ini, ada persepsi bahwa menguasai bahasa asing jauh lebih menguntungkan secara finansial dibandingkan bahasa daerah. Duta Bahasa Kaltimtara, Muhammad Tirta Artesian, mengakui adanya tantangan karena banyak anak muda lebih melihat peluang sebagai penerjemah bahasa Inggris atau Mandarin. Namun ia menekankan, bahasa daerah sebenarnya memiliki potensi komersial yang besar jika dikemas dengan kreatif.

''Sebenarnya bahasa daerah ini membentuk kepribadian dan jati diri kita. Bahasa daerah juga punya nilai jual, melalui acara berbahasa daerah dan konten kreatif media sosial,'' ujar Tirta dalam siaran Odah Bekesah RRI Pro4 Samarinda.

Sementara itu, Duta Bahasa Kaltimtara 2025 lainnya, Jacinta Maharani Mulawarman, menambahkan media sosial telah menjadi panggung bagi bahasa daerah untuk bersinar. ''Penggunaan bahasa lokal yang unik justru membuat netizen penasaran dan memberikan nilai tambah pada sebuah konten,'' katanya, dikutip Senin 9 Maret 2026.

Contoh nyata yang disebutkan adalah kesuksesan film lokal seperti Kuyank dan lagu-lagu berbahasa Banjar yang mampu menarik perhatian ratusan ribu penonton. Bahasa daerah memberikan rasa akrab dan kekeluargaan yang tidak bisa digantikan oleh bahasa asing. Saat berkomunikasi dengan bahasa daerah, dapat menciptakan koneksi yang lebih cepat dan mendalam.

Melalui program seperti Anarawat Bahasa Etam, para Duta Bahasa berusaha menanamkan rasa bangga kepada anak-anak sejak dini. Tujuannya untuk menjadikan bahasa daerah sebagai bagian dari gaya hidup modern.

Selain sebagai alat komunikasi, bahasa daerah adalah cerminan sebuah peradaban. Tirta Artesian memperingatkan bahwa kehilangan bahasa daerah berarti kehilangan satu peradaban utuh. Oleh karena itu, rebranding bahasa daerah melalui konten digital menjadi strategi agar bahasa ibu tetap eksis di era digitalisasi.

Rekomendasi Berita