Babiran: Seni 'Mengomel' Berau yang Menghidupkan Budaya Bumi Batiwakkal

  • 10 Mar 2026 20:54 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Berau - Di balik sosoknya yang bersahaja, Aji Norbek Perkasa menyimpan semangat api yang menyala untuk tanah kelahirannya. Sebagai bagian dari keluarga besar organisasi masyarakat adat Kesultanan Gunung Tabur, pria yang kini menikmati masa pensiunnya ini tidak memilih untuk berdiam diri. Ia justru turun ke "gelanggang" budaya, menghidupkan kembali “Babiran” sebuah seni tutur unik yang mulai langka di telinga generasi muda.

Sejarah Berau adalah sejarah tentang persaudaraan dan pembagian peran. Merujuk pada literatur Sejarah Kerajaan di Kalimantan Timur, pada abad ke-19, Kerajaan Berau mengalami pembagian wilayah menjadi dua: Kesultanan Gunung Tabur di sisi utara dan Kesultanan Sambaliung di sisi selatan.

Kedua kesultanan ini dipisahkan oleh sungai namun dipersatukan oleh adat istiadat yang serupa. Di lingkungan inilah Aji Norbek tumbuh, menyerap kearifan lokal yang cair namun sarat makna. Babiran, yang secara harfiah berarti mengomel, lahir dari interaksi sosial masyarakat di kedua kesultanan ini sebagai alat kontrol sosial yang jenaka namun tajam.

Bagi Aji Norbek, Babiran bukanlah sekadar peluapan emosi. Ada nilai edukasi dan motivasi di setiap kalimat yang dilontarkan. "Memang dari zaman dahulu, Babiran itu artinya mengomel. Tapi, kita mengomel sambil mengangkat moral," ujar Aji Norbek dengan nada mantap.

Beliau mencontohkan bagaimana seorang ibu di zaman dulu melakukan Babiran sambil melakukan aktivitas harian seperti menyapu atau membelah kayu.

Salah satu kalimat legendarisnya adalah: "Kau attu enda tau bakareja tapi kau andak makan nyaman terus!" (Kamu ini tidak tahu bekerja, tapi mau makan enak terus!)

EKSKLUSIF: Aji Norbek Perkasa

Kalimat ini, menurut Aji Norbek, adalah cara orang tua Berau memacu semangat anak-anaknya agar tidak malas dan memahami nilai kerja keras. "Inilah yang kami bawa saat tampil di Expo dan acara budaya lokal. Kami ingin anak muda tahu bahwa ini adalah tradisi turun-temurun," katanya, pada Rabu, 11 Maret 2026.

Aji Norbek menekankan bahwa Babiran adalah seni yang jujur karena dilakukan secara spontan. Tidak ada naskah kaku atau ritual khusus sebelum naik panggung.

"Babiran itu kalau saat ini ibaratnya seperti stand-up comedy, tapi menggunakan bahasa daerah, bahasa Berau," kata Aji. Bersama rekan sejawatnya, seperti Ibu Nur Laila, ia sering tampil di acara publik seperti di Pasar Barambang untuk menyentil fenomena sosial terkini, seperti anak muda yang hobi balap motor atau mereka yang terlalu sibuk bermain ponsel hingga lupa membantu orang tua.

Aji Norbek Perkasa memiliki visi besar agar Babiran, Karang-karangan, dan Bepantun tidak hilang ditelan zaman. Meski belum ada pengajaran formal, kehadirannya di setiap panggung daerah adalah bentuk "sekolah alam" bagi pemuda Berau.

"Harapannya, semoga generasi muda tidak lupa dengan adat budayanya. Insya Allah ke depannya kami akan berusaha mempertahankan ini dengan mengadakan lomba-lomba khusus," ucap Aji Norbek Perkasa dengan senyum penuh optimisme.

Bagi masyarakat Berau, sosok Aji adalah pengingat bahwa identitas bangsa tidak hanya tersimpan di museum, tapi juga hidup dalam setiap kata dan "omelan" yang kita ucapkan sehari-hari. (DiskominfoBerau_IKP/Win)

Video

Rekomendasi Berita