Lagu Shooting Star, Merayakan Cinta dalam Sunyi
- 28 Feb 2026 20:24 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Bulan Kasih Sayang tidak selalu identik dengan bunga dan makan malam romantis. Bagi sebagian orang, momen ini justru menjadi ruang untuk mengenang. Tentang seseorang yang pernah hadir, percakapan yang belum selesai, dan rindu yang masih tinggal diam-diam. Lagu “Shooting Star” dari Eileen Pandjaitan atau yang dikenal sebagai Ei, hadir sebagai teman bagi mereka yang merayakan cinta dalam bentuk yang lebih sunyi.
Single terbaru ini menghadirkan balada pop yang jujur dan intim. “Shooting Star” bercerita tentang kehilangan yang belum benar-benar usai. Sosok dalam lagu itu terus kembali ke tempat yang sama dan pada waktu yang sama dengan harapan sederhana bahwa keajaiban kecil dapat mempertemukannya kembali dengan orang yang dicintai. Narasi tersebut digambarkan melalui adegan seorang perempuan yang berdiri di kafe tempat mereka dahulu bertemu, meyakinkan diri bahwa ia melihat mobil seseorang melintas.
Alur lagu mengalir seperti percakapan batin tanpa penyangkalan. Harapan dan kenyataan berjalan berdampingan. Kadang yang terlihat hanya bayangan, kadang yang terasa hanyalah ingatan. Namun di situlah kekuatan “Shooting Star” bekerja, yakni pada keberanian untuk mengakui bahwa perasaan belum sepenuhnya reda.
Ei menyebut lagu ini sebagai karya yang sangat personal. “Shooting Star itu semacam percakapan batin yang tidak pernah sempat tersampaikan,” ujarnya. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa lagu ini lahir dari pengalaman emosional yang tulus, bukan sekadar konsep musikal yang dirancang untuk mengikuti tren.
Dari sisi produksi, lagu ini dikemas dengan pendekatan minimalis agar emosi tetap terjaga keasliannya. “Saya tidak ingin terdengar berlebihan atau dramatis secara artifisial. Hanya kejujuran,” kata Ei. Kolaborasinya bersama Bowo Soulmate sebagai pengarah vokal serta Ankadiov dan Andreas Arianto sebagai produser menghasilkan lanskap bunyi yang bersih dan resonan, sehingga vokal Ei menjadi pusat perhatian.
Sebagai soundtrack Valentine 2026, “Shooting Star” menawarkan perspektif berbeda. Lagu ini tidak hanya ditujukan bagi mereka yang sedang jatuh cinta, melainkan juga bagi yang masih menyimpan nama seseorang di daftar putar pribadi. Bagi yang pernah kehilangan tetapi tetap percaya pada keajaiban kecil, serta bagi yang memilih mencintai tanpa harus memiliki.
Ei sendiri dikenal sebagai penyanyi dan penulis lagu dengan proses kreatif yang reflektif. Lahir pada 2003 dan kini menempuh pendidikan di Berklee College of Music melalui jalur beasiswa, ia menunjukkan kedalaman rasa yang jarang ditemui pada musisi seusianya. “Shooting Star bukan lagu yang memaksa orang untuk segera melupakan. Lagu ini menemani pendengar untuk mengakui perasaannya,” katanya.
Di tengah budaya digital yang serba cepat, lagu yang mampu membuat orang berhenti dan merasakan menjadi semakin langka. “Shooting Star” menawarkan jeda itu. Ketika malam tiba dan seseorang memandang langit, lagu ini dapat menjadi pengingat bahwa bahkan bintang jatuh pun menyimpan makna tentang harapan dan penerimaan diri.