Cara Membuat Mikroorganisme Lokal Sederhana dari Rumah
- 26 Feb 2026 12:09 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Mikroorganisme lokal (MOL) tidak hanya mudah dibuat, tetapi juga murah dan bisa dipraktikkan oleh siapa saja di rumah. Hal itu disampaikan penyuluh dan praktisi pertanian BRMP Kaltim, Rosdina Napitupulu, kepada RRI dalam dialog interaktif Pro1 Samarinda.
Dalam kesempatan tersebut, ia membagikan langkah sederhana pembuatan MOL yang bisa langsung dicoba masyarakat. Rosdina mengatakan bahan MOL dapat memanfaatkan limbah dapur atau tanaman di sekitar rumah. “Sangat mudah dan sangat murah. Siapa pun bisa melakukannya, baik ibu rumah tangga maupun anak sekolah,” ujarnya, dikutip Kamis, 26 Februari 2026.
Ia mencontohkan penggunaan bonggol pisang yang baru ditebang satu hingga dua hari. “Bagian luar yang keras dibuang, ambil bagian tengah yang masih putih dan lembap, lalu dicincang kecil-kecil,” kata Rosdina.
Selain bonggol pisang, bahan lain seperti nasi sisa, air cucian beras, kulit buah, atau rebung juga dapat digunakan. “Semua itu sumber mikroorganisme lokal yang ada di sekitar kita,” ucapnya.

Untuk proses fermentasi, bahan utama dicampur larutan gula merah sebagai sumber energi mikroba. “Perbandingannya, gula sekitar 10 persen dari berat bahan utama. Kalau bonggol pisang satu kilogram, gulanya sekitar 10 persen, lalu ditambah air dua sampai lima liter,” ujarnya.
Campuran tersebut kemudian difermentasi selama tujuh hingga sepuluh hari dalam wadah tertutup. Rosdina menjelaskan ciri MOL yang sudah jadi. “Aromanya asam manis seperti tape, tidak busuk, dan ada gelembung atau lapisan putih di permukaannya,” katanya.
Setelah siap, MOL dapat digunakan dengan cara diencerkan. “Campurkan 100 mililiter MOL ke dalam 10 liter air,” ucapnya. Larutan tersebut bisa disiramkan ke tanah atau disemprotkan ke seluruh bagian tanaman.
Menurut Rosdina, MOL cocok untuk berbagai jenis tanaman, mulai dari hortikultura hingga tanaman pangan. “Fungsinya umum, membantu pertumbuhan akar, menjadi musuh alami jamur patogen, dan memperbaiki kesuburan tanah,” ujarnya.
Namun, ia mengingatkan penggunaan MOL sebaiknya disertai pupuk organik. “Mol tidak bekerja instan seperti pupuk kimia. Dia bekerja pelan-pelan tapi pasti. Harus ada bahan organik sebagai sumber makanannya supaya mikroba tidak mati,” kata Rosdina.
Ia menegaskan, pupuk organik dan MOL harus bersinergi. “Keduanya saling menguntungkan. Mol menguraikan bahan organik, dan bahan organik menjadi sumber energi bagi mol,” ucapnya. Dengan cara sederhana ini, masyarakat dapat mulai menerapkan pertanian ramah lingkungan dari rumah sendiri.