Keluhan ISPA Dominasi Kunjungan Puskesmas Sempaja

  • 23 Feb 2026 08:49 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) masih mendominasi kunjungan pasien di UPTD Puskesmas Sempaja, Samarinda Utara, terutama pada awal tahun 2026. Meski memasuki Ramadan 1447 Hijriah, jumlah pasien dengan keluhan ISPA disebut tidak mengalami lonjakan signifikan dan relatif stabil dibanding bulan sebelumnya.

Kepala UPTD Puskesmas Sempaja, Emma Ariani, mengatakan, penyakit saluran pernapasan atas tetap menjadi keluhan terbanyak masyarakat yang datang berobat. Dalam keterangannya menjawab pertanyaan terkait tren selama Ramadan, ia menyebut jumlah kasus cenderung sama seperti hari biasa.

“Kalau selama Ramadan tidak ada peningkatan, kurang lebih sama saja. Penyakit yang paling sering ditemukan tentu saja ISPA, saluran pernapasan atas, batuk pilek, demam,” ujarnya kepada rri.co.id, Senin 23 Februari 2026.

Menurut Emma, ISPA merupakan kelompok penyakit yang mencakup beberapa diagnosis seperti tonsilitis atau radang amandel, faringitis, hingga common cold atau flu biasa akibat virus. Ia menjelaskan bahwa ISPA yang paling banyak ditemukan di fasilitas layanan primer umumnya menyerang saluran pernapasan bagian atas dan belum sampai ke paru-paru.

“ISPA itu macam-macam. Tonsilitis masuk di situ, faringitis juga. Jadi saluran pernapasan atas yang meradang, batuk pilek, flu biasa, itu masuk dalam kategori ISPA, meskipun kode diagnostiknya berbeda,” ucapnya.

Secara medis, ISPA umumnya disebabkan oleh infeksi virus seperti rhinovirus, coronavirus, dan influenza, maupun bakteri seperti streptococcus. Penularannya terjadi melalui droplet saat penderita batuk atau bersin, serta kontak dengan permukaan yang terkontaminasi. Faktor risiko meliputi daya tahan tubuh yang menurun, paparan polusi udara, asap rokok, serta lingkungan yang kurang higienis.

Kondisi cuaca yang berubah-ubah pada awal tahun turut menjadi faktor yang memengaruhi daya tahan tubuh masyarakat. Kini cuaca di Samarinda cenderung berubah-ubah, setelah sempat panas pada Januari, beberapa pekan terakhir lebih sering hujan diselingi terik matahari dengan kelembapan tinggi. Perubahan suhu dan kelembapan tersebut dapat memicu meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan, meskipun secara umum ISPA memang menjadi penyakit terbanyak sepanjang tahun di layanan puskesmas.

Selain penyakit menular, Emma menambahkan bahwa kasus nonmenular yang paling banyak ditemukan adalah hipertensi. Hal ini menunjukkan bahwa beban layanan kesehatan primer tidak hanya pada penyakit infeksi, tetapi juga penyakit kronis yang memerlukan pemantauan rutin.

Sebagai langkah pencegahan, Puskesmas Sempaja tetap menerapkan protokol penggunaan masker bagi pasien dengan keluhan batuk pilek maupun bagi tenaga kesehatan. Kebijakan ini tetap dipertahankan meski situasi pandemi Covid-19 telah mereda.

“Kami mewajibkan pasien yang batuk pilek memakai masker. Petugas juga selalu memakai masker saat bertugas, karena kita tidak pernah tahu pasien ini sakit apa. Ini untuk mencegah penularan penyakit lewat udara,” kata Emma.

Puskesmas juga mengimbau masyarakat untuk menjaga daya tahan tubuh dengan pola makan seimbang, istirahat cukup, serta menjaga kebersihan lingkungan. Masyarakat yang mengalami gejala batuk, pilek, demam, atau radang tenggorokan disarankan segera memeriksakan diri agar mendapat penanganan tepat dan mencegah penularan lebih luas.

Dengan tingginya mobilitas warga di kawasan Samarinda Utara yang padat permukiman, kewaspadaan terhadap ISPA tetap menjadi perhatian bersama. Upaya pencegahan berbasis keluarga dan lingkungan dinilai penting agar angka kesakitan akibat infeksi saluran pernapasan dapat ditekan, terutama pada masa peralihan cuaca seperti saat ini.

Rekomendasi Berita