Akademisi Ungkap Perbedaan Nyamuk DBD dan Malaria

  • 06 Mar 2026 07:45 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Masyarakat diimbau memahami perbedaan jenis nyamuk penyebab penyakit demam berdarah dengue (DBD) dan malaria agar tidak keliru dalam melakukan pencegahan. Akademisi Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman, Swandari Paramita, menegaskan kedua penyakit tersebut sama-sama berbahaya dan dapat berakibat fatal jika terlambat ditangani.

Ia menjelaskan nyamuk penyebab DBD, yakni Aedes aegypti, memiliki ciri fisik dan perilaku yang berbeda dengan nyamuk Anopheles penyebab malaria.

“Nyamuk Aedes aegypti cirinya berloreng hitam putih. Sementara Anopheles cenderung berwarna gelap. Dari bentuk saja sudah berbeda,” ujar Swandari kepada RRI, dalam program Halo Kaltim Pro1 Samarinda, dikutip Jumat 6 Maret 2026.

Perbedaan juga terlihat dari waktu menggigit. Nyamuk Aedes aegypti aktif pada pagi hingga siang hari dan sore menjelang petang, sedangkan Anopheles lebih aktif pada malam hari. “Nyamuk DBD menggigit sekitar pukul 08.00 sampai 10.00 dan sore hingga pukul 16.00. Sementara Anopheles justru aktif malam hari. Jadi waktu ‘kerjanya’ berbeda,” ucapnya.

Selain itu, lokasi perkembangbiakan kedua nyamuk tersebut juga tidak sama. Aedes aegypti berkembang biak di genangan air bersih di lingkungan permukiman padat penduduk, seperti bak mandi, drum penampungan air, kaleng bekas, dan ban bekas. Sebaliknya, Anopheles lebih banyak ditemukan di area rawa atau hutan.

“Nyamuk DBD suka air bersih di sekitar rumah. Sedangkan Anopheles banyak ditemukan di rawa atau daerah berhutan. Jadi habitatnya pun berbeda,” kata Swandari.

Ia menegaskan, baik DBD maupun malaria sama-sama berisiko menimbulkan komplikasi serius. Oleh karena itu, masyarakat tidak boleh menyepelekan gejala awal demam dan harus segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.

Menanggapi kebiasaan masyarakat yang mengandalkan jus jambu biji saat trombosit turun, Swandari memberikan penjelasan medis. Ia menyebut jus jambu memang kaya vitamin C yang dapat membantu daya tahan tubuh, tetapi bukan terapi utama DBD.

“Jus jambu mengandung vitamin C yang membantu meningkatkan daya tahan tubuh. Namun, tidak secara langsung menaikkan trombosit atau menyembuhkan DBD,” ujarnya.

Ia mengingatkan agar masyarakat tidak hanya mengandalkan konsumsi jus tanpa pemeriksaan medis. Jika trombosit turun drastis, pasien tetap membutuhkan penanganan dokter, bahkan kemungkinan rawat inap atau transfusi darah.

“Silakan saja minum jus jambu, tetapi jangan berlebihan dan tetap periksakan diri ke fasilitas kesehatan. Jangan sampai terlambat karena mengira cukup dengan minum jus saja,” ucapnya.

Dengan memahami perbedaan nyamuk, pola penularan, serta pentingnya pemeriksaan laboratorium, masyarakat diharapkan semakin waspada terhadap DBD dan tidak ragu mencari pertolongan medis sejak gejala awal muncul.

Rekomendasi Berita