Nastar, Simbol Tradisi Lebaran Indonesia
- 25 Feb 2026 07:38 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Kue kering nastar merupakan salah satu hidangan yang paling identik dengan perayaan Lebaran di Indonesia. Hampir setiap rumah menyajikan nastar sebagai suguhan utama bagi tamu yang datang bersilaturahmi setelah Hari Raya Idul Fitri. Bentuknya yang kecil, rasa manis, serta teksturnya yang lembut membuat kue ini disukai berbagai kalangan usia. Kehadirannya bukan hanya sekadar makanan ringan, tetapi juga telah menjadi bagian dari tradisi budaya masyarakat Indonesia saat merayakan kemenangan setelah menjalani ibadah Ramadan (Rahman, 2016).
Dikutip dari berbagai sumber, secara etimologis, nama nastar berasal dari bahasa Belanda, yaitu “ananas” yang berarti nanas dan “taart” yang berarti kue atau tart. Kue ini mulai dikenal pada masa kolonial Belanda ketika masyarakat Eropa membawa tradisi pembuatan pie dan kue tart ke Nusantara. Karena buah khas Eropa sulit ditemukan di Indonesia, masyarakat lokal menggantinya dengan selai nanas yang melimpah di wilayah tropis. Proses adaptasi ini kemudian melahirkan nastar versi Indonesia yang berkembang menjadi kue kering kecil berisi selai nanas.
Seiring waktu, nastar tidak hanya menjadi hasil akulturasi budaya kuliner, tetapi juga memperoleh makna simbolis dalam perayaan Lebaran. Kue ini melambangkan kehangatan dan keramahan tuan rumah dalam menyambut tamu yang datang bersilaturahmi. Tradisi saling berkunjung saat Idul Fitri menjadikan nastar sebagai simbol kebersamaan serta sarana mempererat hubungan sosial antaranggota masyarakat.
Selain itu, nastar juga sering dikaitkan dengan simbol kemakmuran dan rasa syukur. Pada masa lalu, bahan-bahan seperti mentega, telur, dan gula tergolong bahan mewah sehingga hanya disajikan pada momen istimewa. Oleh karena itu, kehadiran nastar saat Lebaran mencerminkan kebahagiaan serta rasa syukur atas rezeki setelah menjalani Ramadan. Rasa manisnya dimaknai sebagai harapan akan kehidupan yang lebih baik dan hubungan yang kembali harmonis setelah saling memaafkan
Hingga kini, tradisi membuat dan menyajikan nastar tetap bertahan dan diwariskan dari generasi ke generasi. Banyak keluarga menjadikan proses pembuatan nastar sebagai kegiatan bersama menjelang Lebaran yang memperkuat ikatan keluarga. Meski muncul berbagai inovasi bentuk dan rasa, makna simbolisnya tetap melekat sebagai bagian dari identitas budaya Lebaran di Indonesia yang sarat sejarah dan nilai kebersamaan . (Mayang)