Legenda Latemmamala dan Sejarah Berdirinya Kerajaan Soppeng
- 20 Feb 2026 16:06 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Sejarah besar Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, kembali diangkat dalam diskusi budaya yang menyoroti asal-usul serta masa kejayaan kerajaan tersebut di masa lampau. Melalui program Pantas Bugis di RRI Samarinda pada Senin, 2 Februari 2026, terungkap bahwa identitas Soppeng tidak lepas dari kisah dua wilayah utama, yakni Soppeng Riaja dan Soppeng Rilau, yang dipersatukan oleh kepemimpinan seorang tokoh legendaris.
Dalam naskah kuno Lontara, disebutkan bahwa jauh sebelum kerajaan resmi terbentuk, wilayah Soppeng sudah diatur oleh 60 pemuka masyarakat. Namun, situasi berubah drastis ketika musim kemarau panjang memicu huru-hara dan kemiskinan yang meluas. Kondisi tersebut memaksa para pemimpin masyarakat untuk bermusyawarah guna mencari sosok junjungan yang mampu memulihkan kedamaian dan kesejahteraan rakyat.
Kisah menarik muncul saat burung kakatua atau dalam bahasa Bugis disebut Cakkelé mengganggu jalannya musyawarah besar tersebut. Arung Bila kemudian memerintahkan warga untuk mengikuti arah terbang burung itu hingga tiba di sebuah tempat bernama Sekanyili. Di sana, mereka menemukan sosok Manurung Ri Sekanyili yang kemudian diangkat menjadi raja pertama dengan gelar Datu Soppeng.
"Datu Soppeng pertama menerima pengangkatan dengan sumpah di atas batu Lamung Patué sambil memegang segenggam padi sebagai janji setia," ujar Indo Siti dalam siaran tersebut. Sumpah tersebut menegaskan bahwa sang raja tidak akan memakan hasil padi jika bertindak curang dalam menjalankan pemerintahan, sebuah komitmen moral yang dijunjung tinggi hingga generasi berikutnya.
Selain sejarah kepemimpinan, Soppeng juga identik dengan julukan "Kota Kalong" karena keberadaan ribuan kelelawar yang bergantung di pohon-pohon asam di pusat kota. Masyarakat setempat meyakini bahwa perilaku kalong tersebut merupakan pertanda alam. Jika kalong-kalong tersebut tiba-tiba menghilang dari tempatnya, hal itu sering dianggap sebagai isyarat akan datangnya bahaya seperti kebakaran atau bencana lainnya.
Secara administratif, hari jadi Kabupaten Soppeng kemudian ditetapkan jatuh pada tanggal 23 Maret 1261 melalui Peraturan Daerah Nomor 19 Tahun 2001. Penetapan ini didasarkan pada hasil seminar budayawan dan tokoh masyarakat yang merujuk pada masa awal pemerintahan Latemmamala. Angka tersebut dipilih karena memiliki makna filosofis mendalam yang mewakili persatuan dua wilayah asal penduduk Soppeng, yaitu Séwo dan Gataréng.
Melalui ulasan sejarah ini, generasi muda diharapkan dapat memahami nilai-nilai demokrasi dan kejayaan masa lalu sebagai acuan pembangunan masa depan. Semangat persatuan yang dibangun sejak masa kepemimpinan Datu Soppeng pertama tetap menjadi inspirasi utama bagi masyarakat Soppeng, baik yang menetap di Sulawesi Selatan maupun yang sedang merantau di Kalimantan.