Benarkah Tradisi Padusan di Jawa Peninggalan Raja Jayabaya?
- 20 Feb 2026 09:03 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, SEMARANG - Pada era kerajaan Islam di Jawa, seperti Kesultanan Demak dan Mataram Islam, tradisi padusan tetap berlangsung di tengah masyarakat.
Meski tidak diatur secara resmi oleh lembaga keagamaan, padusan hidup sebagai praktik budaya yang melekat pada kehidupan sosial masyarakat Jawa.
Hingga kini, padusan dipahami sebagai warisan budaya masyarakat Jawa yang berakar dari sejarah panjang interaksi antara tradisi lokal dan pengaruh Islam. Padusan berasal dari bahasa Jawa adus yang berarti mandi.
Menurut Budayawan Universitas Gadjah Mada, Rudy Wiratama, tradisi ini memiliki makna sebagai bentuk pensucian diri, baik lahir maupun batin, dalam menyambut bulan Ramadhan. Menjelang bulan suci Ramadhan, masyarakat Jawa, khususnya di Jawa Tengah dan Yogyakarta, memiliki tradisi unik yang dikenal sebagai padusan.
Tradisi ini dilakukan sehari sebelum puasa dimulai dan biasanya dilakukan secara bersama-sama di kolam renang, mata air, atau sendang. Seiring perkembangan zaman, padusan tidak hanya menjadi ritual spiritual, tetapi juga bagian dari industri pariwisata tahunan.
Padusan dianggap sebagai simbol pembersihan diri sebelum menjalani ibadah puasa yang membutuhkan kesiapan fisik dan spiritual. Rudy Wiratama menambahkan, pada era Hindu-Buddha, padusan dikenal dengan istilah Dewa Sraya, yaitu mandi keramas dengan tujuan menghilangkan dosa.
Salah satu literatur yang menyebutkan istilah ini adalah Kakawin Bharatayuddha yang berasal dari masa pemerintahan Raja Jayabaya pada tahun 1135-1157 Masehi. Ketika Islam masuk ke tanah Jawa, tradisi padusan tetap dipertahankan dengan nuansa keislaman.