Psikolog Ingatkan Risiko Adiksi Media Sosial pada Anak Usia Dini
- 12 Mar 2026 17:19 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang- Penggunaan media sosial pada anak usia dini dinilai berpotensi memicu berbagai persoalan psikologis, termasuk kecanduan gawai dan gangguan perilaku. Oleh karena itu, rencana pembatasan akses media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun dinilai sebagai langkah yang positif untuk melindungi tumbuh kembang anak.
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Semarang (USM), Yudi Kurniawan, mengatakan paparan media sosial yang terlalu dini dapat memberikan stimulus berlebih pada otak anak yang masih dalam tahap perkembangan. Otak anak yang masih dalam fase berkembang dianggap belum siap menerima terlalu banyak informasi dan belum dapat memilih informasi dengan bijak.
“Nah, kebayang, ya otak belum matang dikasih stimulus yang luar biasa banyak pada usia yang sangat dini, ketika mereka usianya masuk di usia praremaja, mereka punya punya problem untuk impulsnya tadi. Jadi tidak mengherankan jika sekarang kemudian meningkat ya problem masalah perilaku pada anak,” ujarnya kepada RRI, Kamis, 12 Maret 2026.
Menurutnya, kecanduan gawai tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui proses yang berlangsung dalam waktu cukup lama. Oleh karena itu, orang tua perlu peka terhadap perubahan perilaku anak, serta membangun komunikasi yang terbuka agar penggunaan gawai dapat tetap terkontrol.
Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana Provinsi Jawa Tengah, Ema Rachmawati, menyebut ketergantungan anak terhadap media sosial memang mulai terlihat di masyarakat. Bahkan, sejumlah anak menunjukkan reaksi emosional ketika akses terhadap media sosial dibatasi.
“Memang kita perlu untuk memberikan pendidikan pada keluarga gitu ya, orang tua, bagaimana sih mendampingi anak-anak menggunakan gawai. Mudah-mudahan ini akan memberikan pelajaran kepada masyarakat bahwa pendampingan kepada anak-anak dalam menggunakan gadget itu sangat penting dan pemerintah di sini mengambil peran, ya,” katanya.
Ia menambahkan, anak-anak pada dasarnya belum memiliki kemampuan yang cukup untuk memilah informasi yang baik dan tidak baik di ruang digital. Menurutnya, pendampingan orang tua menjadi faktor penting agar anak tetap dapat memanfaatkan teknologi secara sehat dan bijak.