Musim Durian, Lempok Jadi Olahan Favorit Warga Kubar

  • 02 Feb 2026 20:58 WIB
  •  Sendawar

RRI.CO.ID, Sendawar - Lempok atau dodol durian merupakan salah satu olahan tradisional yang dapat dijumpai di kawasan Sumatra dan Kalimantan. Selain lempok durian yang banyak dikenal masyarakat, makanan ini juga menjadi bagian dari kekayaan kuliner daerah saat musim durian tiba.

Harga lempok durian di pasaran bervariasi, mulai dari Rp100 ribu hingga Rp150 ribu per tergantung kemasan. Bentuk dan rasanya terbilang sederhana, namun cita rasa khas durian membuatnya tetap digemari sebagai camilan maupun oleh-oleh.

Bahan dan proses pembuatan lempok durian juga tidak rumit. Untuk membuatnya, bahan yang diperlukan hanya daging buah durian, gula pasir, serta sedikit garam. Meski sederhana, pemilihan kualitas bahan dan ketelitian dalam proses memasak menjadi kunci utama.

Saat musim durian berlimpah, membuat olahan durian menjadi pilihan masyarakat untuk menambah nilai jual buah tersebut. Salah satu olahan yang terkenal di Kalimantan adalah lempok durian, yang banyak dijajakan di berbagai daerah.

Ketika musimnya datang, jumlah durian yang melimpah juga diikuti dengan menjamurnya pedagang. Kondisi ini terjadi di Kabupaten Kutai Barat (Kubar), meski pasokan durian umumnya berasal dari Kecamatan Long Iram, Tering, Intu Lingau, hingga sejumlah kabupaten tetangga.

Salah seorang warga Kampung Intu Lingau, Kecamatan Nyuatan, Kutai Barat (Kubar), Martinus Wang, mengatakan hampir setiap rumah di kampungnya memiliki kebun durian. 

“Minimal ada tiga pohon durian di setiap kebun warga,” ujar Martinus, Minggu 1 Februari 2026.

Lempok durian sendiri merupakan makanan tradisional khas Kalimantan yang hampir mirip dodol, namun tidak menggunakan campuran tepung. 

“Lempok terbuat dari daging durian dan gula pasir sebagai pengawet alami,” kata Martinus. 

Teksturnya yang kenyal dan legit, dipadu aroma durian yang kuat, membuat lempok durian menjadi salah satu makanan favorit masyarakat serta pilihan oleh-oleh khas daerah.

Selain rasanya yang khas, lempok durian juga menjadi sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat saat musim panen tiba. Banyak warga memanfaatkan durian yang melimpah untuk diolah, sehingga nilai jualnya lebih tinggi dibandingkan dijual dalam bentuk buah segar.

Proses memasak lempok biasanya memerlukan waktu cukup lama karena adonan harus terus diaduk hingga mengental dan berubah warna. Ketekunan inilah yang membuat lempok durian tidak hanya sekadar makanan, tetapi juga hasil keterampilan turun-temurun dari tangan-tangan berpengalaman.

Martinus menambahkan, lempok durian kini tidak hanya diminati warga lokal, tetapi juga pembeli dari luar daerah.

“Kalau musim durian ramai, banyak orang cari lempok untuk oleh-oleh khas Kubar,” ucapnya. 

Dengan potensi tersebut, lempok durian dinilai mampu menjadi produk unggulan yang mendukung perekonomian masyarakat desa.

Rekomendasi Berita