Dampak Negatif Artificial Intellegence di Dunia Kerja

  • 27 Feb 2026 07:15 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Banyak perusahaan dengan cepat mengadopsi AI buatan untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi di seluruh perusahaan mereka. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa peningkatan produktivitas ini dapat memudar dan menciptakan tantangan tempat kerja yang tak terduga.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam Harvard Business Review meneliti karyawan yang menggunakan AI generatif selama delapan bulan. Peneliti dari University of California, Berkeley mengamati hampir dua ratus pekerja di sebuah perusahaan teknologi.

Karyawan dengan langganan AI tingkat perusahaan tidak diwajibkan menggunakan alat tersebut setiap hari. Namun, banyak yang memilih mengadopsi AI dan pada awalnya menyelesaikan tugas lebih cepat dibanding sebelumnya.

Seiring meningkatnya produktivitas, pekerja menerima lebih banyak tanggung jawab dan melampaui peran pekerjaan asli mereka. Perubahan ini sering menciptakan beban kerja lebih berat dan membuat keseimbangan hidup semakin sulit.

Alat AI memungkinkan nonpengembang menangani tugas teknis yang sebelumnya diberikan kepada spesialis. Dengan mengambil proyek tambahan sendiri, karyawan tanpa sengaja meningkatkan tingkat stres mereka secara signifikan.

Meskipun AI menghemat waktu, hasil keluarannya sering memerlukan peninjauan manusia yang cermat. Karyawan menghabiskan waktu berjam-jam memperbaiki kesalahan, dan menyebutnya sebagai pekerjaan yang berantakan.

Laporan dari OpenAI memperkirakan pekerja menghemat sekitar empat puluh hingga enam puluh menit setiap minggu. Penghematan waktu yang terbatas ini jarang menghasilkan peningkatan nyata dalam keseimbangan hidup dan kerja.

Alih-alih mengurangi beban kerja, AI sering mendorong karyawan tetap terhubung lebih lama. Pekerja kerap menjalankan perintah saat istirahat atau setelah jam kerja karena alat selalu tersedia.

Para peneliti menyimpulkan bahwa penggunaan AI cenderung memperberat pekerjaan dibanding menyederhanakannya. Harapan untuk hasil yang lebih cepat tetap tinggi meskipun karyawan bergantung pada bantuan digital.

Pakar seperti Aruna Ranganathan dan Xingqi Maggie Ye merekomendasikan perubahan organisasi yang lebih bijaksana untuk mencegah kelelahan. Mereka menyarankan melindungi waktu fokus, memprioritaskan kualitas daripada kecepatan, dan menetapkan batas penggunaan AI yang lebih sehat. (source CNet.News)

Rekomendasi Berita