Pura Pujangga Sakti dan Wisata Bunut Bolong

  • 04 Feb 2026 12:21 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Negara - Pura Pujangga Sakti yang terletak di Banjar Bunut Bolong, Desa Manggissari, Kecamatan Pekutatan, diyakini telah berdiri sejak abad ke-4 Masehi. Keberadaan pura ini bahkan disebut lebih dahulu ada dibandingkan lubang pada pohon bunut atau Bunut Bolong yang kini menjadi jalur penghubung Pekutatan menuju Kabupaten Buleleng dan Tabanan.

Pura Pujangga Sakti berdiri di kawasan perbukitan dengan latar pemandangan laut lepas. Letak tersebut mencerminkan konsep nyegara gunung, yakni penyatuan unsur gunung dan laut. Berdasarkan sejumlah sumber, pura ini erat kaitannya dengan perjalanan Rsi Agastya bersama beberapa rsi lainnya dalam penyebaran ajaran Hindu di Bali. Di sekitar pura juga ditemukan prasasti beraksara Jawa Kuno yang menyebutkan masa pembuatan pura pada abad ke-4 Masehi.

Bendesa Adat Manggissari, I Nyoman Linggih menuturkan secara arsitektur, Pura Pujangga Sakti menerapkan konsep Tri Mandala dengan pintu utama menghadap ke selatan atau arah laut. Pada area madya mandala, pemedek disambut kori agung atau candi bentar serta pelinggih apit lawang. Sementara di utama mandala berdiri sejumlah pelinggih, di antaranya Padma, Surya, Taksu, Pengarum Pengayat Sri Rambut Sedana, Menjangan Saluang, Sapta Petala, hingga Bale Piasan dan Bale Santhi.

Untuk mencapai nista mandala, pengunjung harus menaiki sekitar 30 anak tangga, mengingat lokasi pura berada di area perbukitan. Di bagian luar pura terdapat bale kulkul, pesayuban, serta bangunan perantenan. Pura ini diempon oleh 138 kepala keluarga Banjar Bunut Bolong serta krama Desa Adat Manggissari, dan saat pujawali juga didatangi warga dari desa tetangga seperti Asah Duren dan Bading Kayu.

Di bagian bawah kawasan pura, obyek wisata Bunut Bolong menjadi daya tarik utama kawasan timur Jembrana. Pohon bunut berukuran besar yang dilubangi dan dilintasi jalan aspal satu arah ini menjadi ikon wisata sekaligus jalur strategis penghubung antarkabupaten. Kawasan ini kerap disinggahi wisatawan maupun pengguna jalan yang melintas.

Menurut penuturan warga setempat, pohon bunut tersebut awalnya tidak berlubang. "Lubang pada batang pohon baru dibuat pada masa penjajahan Belanda untuk membuka akses transportasi hasil perkebunan menuju pelabuhan. Saat itu, jalur terhalang oleh pohon bunut besar, jurang di sisi barat, serta keberadaan Pura Pujangga Sakti di sisi utara, sehingga diputuskan melubangi batang pohon tanpa menebangnya," ujar Linggih, Kamis, 22 Januari 2026. 

Meski dari luar terlihat sempit, lubang pada Bunut Bolong sejatinya cukup besar untuk dilalui kendaraan, bahkan truk. Secara spiritual, masyarakat setempat meyakini bentuk lubang tersebut menyerupai gapura dengan apit lawang. Dahulu, di kanan dan kiri pohon bunut juga tumbuh pohon kwanitan, meski kini hanya tersisa satu.

Hingga kini, kawasan Bunut Bolong tidak hanya dikenal sebagai jalur penghubung, tetapi juga sebagai destinasi wisata alam dan spiritual yang menyatu dengan sejarah Desa Manggissari. Keberadaan pura dan pohon bunut menjadi simbol kearifan lokal yang terus dijaga dan dihormati oleh masyarakat setempat.

Rekomendasi Berita