Keunikan Pura Paluang dengan Pelinggih Mobil yang Mendunia
- 04 Feb 2026 13:46 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Nusa Penida – Di antara deretan tebing curam dan keindahan alam Nusa Penida, terdapat sebuah tempat suci yang mengundang decak kagum sekaligus rasa penasaran, yakni Pura Paluang terletak di Dusun Karang Dawa, Desa Bunga Mekar, Kecamatan Nusa Penida Klungkung. Berbeda dengan pura pada umumnya yang memiliki arsitektur tradisional Bali, pura ini memiliki dua pelinggih (bangunan suci) berbentuk kendaraan roda empat yang menyerupai mobil VW Beetle (Kodok) dan Suzuki Jimny.
Walaupun tidak ada prasasti tertulis yang menjelaskan secara pasti kapan pura ini dibangun, namun, masyarakat lokal secara turun-temurun memercayai kisah mistis di baliknya. Konon, saat warga ingin membuka lahan perkebunan, mereka memindahkan sebuah batu karang besar.
Anehnya, batu tersebut selalu kembali ke posisi semula berkali-kali. Akhirnya, warga mendapat petunjuk niskala (gaib) untuk membangun tempat pemujaan di sana. Berdasarkan cerita Wayan driver Manis rent car Nusa Dua, kepada RRI, beberapa waktu lalu, bahwa bangunan pelinggih mobil tersebut sudah merupakan hasil renovasi.
“Awalnya, pelinggih mobil ini dibuat dari kayu. Namun, karena termakan usia dan cuaca, bangunan ini direnovasi menggunakan batu karang agar lebih kokoh tanpa mengubah bentuk aslinya,” ujar wayan.
Dua mobil di areal Pura Paluang ini tidak sekadar hiasan. Mobil yang menyerupai VW Kodok memiliki pelat nomor KD 013, sedangkan yang menyerupai Jeep memiliki pelat DK 28703 GL. Pelinggih mobil ini adalah altar pemujaan sebagai simbol stana manifestasi Tuhan Ida Bhatara Ratu Gede Sakti Ngurah dan Hyang Mami atau Siwa Durga.
Selain menjadi tempat ibadah yang sakral bagi umat Hindu, Pura Paluang kini menjadi destinasi wisata spiritual. Pengunjung tidak hanya datang untuk bersembahyang, tetapi juga untuk menyaksikan perpaduan unik antara tradisi religius dan elemen modern.

Di Pura ini terdapat kera duwe yang dipercaya sebagai penjaga Ida Bhatara yang berstana di Pura Paluang. Saat penulis berkunjung atau tangkil ke pura Paluang, terlihat seekor monyet dengan ukuran tubuh agak besar, duduk diam tidak seperti kera pada umumnya yang agresif, seakan mengamati siapapun yang berkunjung.