Menelusuri Sejarah Panjang Kecap di Nusantara

  • 13 Mar 2026 05:03 WIB
  •  Sorong

RRI.CO.ID, Sorong - Siapa yang tidak mengenal kecap manis? Cairan kental berwarna hitam ini telah menjadi jiwa bagi banyak masakan Nusantara, mulai dari sate, soto, hingga nasi goreng. Mulai dari orangtua sampai anak-anak suka dengan kecap. Namun, tahukah Anda bahwa sejarah kecap di Indonesia merupakan hasil akulturasi budaya yang telah berlangsung selama ratusan tahun?

Kecap sejatinya berasal dari daratan Tiongkok. Kata "kecap" sendiri diyakini berasal dari bahasa Tiongkok yaitu koechiap atau ke-tsiap, yang secara harfiah berarti "cairan ikan" atau "saus ikan". Di negeri asalnya, saus ini awalnya tidak manis, melainkan cenderung asin dan encer.

Kedatangan dan Adaptasi di Nusantara Menurut catatan sejarah, kecap masuk ke Nusantara dibawa oleh para pedagang dan imigran asal Tiongkok pada abad ke-18. Mereka membawa teknik fermentasi kedelai hitam yang kemudian mulai diproduksi di pesisir Jawa.

Namun, masyarakat lokal di Jawa saat itu memiliki lidah yang lebih menyukai rasa manis. Hal ini memicu inovasi unik: penambahan gula kelapa atau gula jawa ke dalam proses pembuatan saus kedelai tersebut. Inilah titik balik terciptanya kecap manis, varian yang hampir tidak ditemukan di negara-negara Asia lainnya.

Sentra Kecap Tertua. Salah satu bukti sejarah kecap di Indonesia dapat dilihat dari berdirinya pabrik-pabrik kecap legendaris. Tangerang, misalnya, dikenal dengan "Kecap Benteng" yang diproduksi oleh komunitas Tionghoa Benteng sejak tahun 1882. Selain itu, wilayah seperti Kudus dan Kebumen juga memiliki sejarah panjang dalam industri kecap rumahan yang masih bertahan hingga lintas generasi.

Proses Tradisional yang Terjaga. Meskipun kini diproduksi secara masif, prinsip dasar pembuatan kecap tetap mempertahankan tradisi lama:

Koji: Proses fermentasi kedelai dengan jamur (Aspergillus) selama beberapa hari.

Moromi: Kedelai yang sudah berjamur direndam dalam larutan garam pekat.

Perebusan: Hasil ekstraksi kedelai direbus bersama gula jawa dan rempah-rempah seperti bunga lawang, sereh, dan lengkuas untuk menciptakan aroma khas.

Hingga saat ini, kecap bukan sekadar bumbu dapur, melainkan simbol keberagaman budaya yang menyatu dalam satu botol, memperkaya khazanah kuliner Indonesia di mata dunia.

Sumber Berita: Denys Lombard dalam buku "Nusa Jawa: Silang Budaya" (1996).

Arsip Budaya Kemendikbud RI mengenai Sejarah Kuliner Akulturasi.

Wawancara Arkeologi Kuliner (Kajian Sejarah Pangan Nusantara).

Rekomendasi Berita