Tradisi Menjenguk Bayi Baru Lahir di Madura
- 13 Feb 2026 13:57 WIB
- Sumenep
RRI.CO.ID, Sumenep - Tradisi menjenguk bayi baru lahir di Madura sarat nilai religius dan rasa syukur. Puncak perayaannya dikenal sebagai Molang Areh, yakni saat usia bayi mencapai 40 hari. Pada masa ini keluarga menggelar selamatan sebagai ungkapan terima kasih atas keselamatan ibu dan anak.
Kunjungan kerabat dan tetangga menjadi bagian penting. Tradisi ini disebut entar namuy atau muy-tamuyan. Para tamu datang mendoakan bayi serta membawa buah tangan.
Dalam rangkaian kunjungan sering dilakukan cukur rambut simbolis dan pemberian nama. Prosesi ini biasanya dipandu tokoh agama atau sesepuh keluarga. Tujuannya memohon keberkahan bagi sang bayi.
Triana, salah seorang warga Kacongan, Sumenep yang tengah melakukan kunjungan ke rumah kerabat yang baru melahirkan mengatakan bahwa tradisi menjenguk bayi yang baru lahir, sudah menjadi kebiasaan turun temurun, tidak hanya saudara atau kerabat dekat, namun tetangga dan para sahabat. “Malam ini pas ada waktu senggang kami sempatkan menjenguk saudara yang baru melahirkan, selain bentuk kepedulian ,ini juga menjadi doa bagi saudara kita agar putra yang dilahirkan menjadi anak yang sholeh dan sholehah,” tuturnya, Kamis, 12 Pebruari 2026..
Doa bersama dipanjatkan agar anak tumbuh sehat, saleh atau salehah dan berbakti kepada orang tua. Selain itu tamu kerap memberi perlengkapan bayi atau uang sebagai bentuk sedekah kelahiran.
Seluruh tradisi tersebut mempererat silaturahmi dan mencerminkan kuatnya nilai Islam dalam kehidupan masyarakat Madura. Tradisi ini sangat dihargai, keluarga dan teman-teman dekat yang datang ke rumah tidak sekedar memberikan ucapan selamat dan doa untuk kesehatan serta masa depan si bayi, namun juga mencerminkan solidaritas sosial dan kekeluargaan yang kuat di masyarakat Madura.
Menariknya, dalam tradisi ini, ada kebiasaan di mana tamu yang menjenguk bayi tidak hanya datang membawa hadiah, tetapi juga sering kali pulang membawa “oleh-oleh” dari keluarga bayi. Oleh-oleh ini dapat beragam, mulai dari makanan kecil seperti kue tradisional, buah-buahan, hingga souvenir kecil sebagai tanda terima kasih. Makanan yang diberikan sering kali merupakan makanan khas daerah setempat, seperti kue basah, snack tradisional, atau buah tangan lain yang menjadi bagian dari kebiasaan menjamu tamu.
Kebiasaan memberikan oleh-oleh ini memiliki makna mendalam. Di satu sisi, ia mencerminkan keramahan dan sikap saling berbagi dalam budaya Madura. Di sisi lain, ini adalah cara keluarga bayi untuk menunjukkan rasa syukur atas perhatian dan doa yang diberikan oleh tamu. Meski tidak wajib, banyak orang tua yang merasa senang berbagi rezeki dan kebahagiaan melalui oleh-oleh tersebut. Hal ini menjadi bukti bagaimana tradisi dan nilai-nilai kekeluargaan tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat Madura.