Generasi Muda Hadapi Dilema “Side Hustle” dan Investasi
- 04 Mar 2026 22:23 WIB
- Sumenep
RRI.CO.ID, Sumenep - Di tengah tantangan ekonomi yang semakin kompleks, generasi muda di Indonesia, terutama di kota besar seperti Surabaya, dihadapkan pada pilihan krusial: fokus pada side hustle, mulai berinvestasi, atau sekadar bertahan hidup (survival).
Kondisi ekonomi global yang fluktuatif, kenaikan harga kebutuhan pokok, serta tekanan untuk memenuhi kebutuhan saat ini dan masa depan menuntut anak muda berpikir lebih cerdas dalam mengelola keuangan. Banyak yang memulai side hustle, seperti berjualan produk secara daring, membuka jasa desain grafis, atau merintis usaha kuliner rumahan. Langkah ini tidak hanya bertujuan menambah penghasilan, tetapi juga menjadi sarana mengasah keterampilan yang dapat diandalkan di masa depan.
Namun, tidak sedikit pula yang masih kesulitan memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari. Kelompok ini terpaksa berfokus pada upaya bertahan hidup dengan menekan pengeluaran dan mencari sumber pendapatan instan.
Di sisi lain, investasi mulai diminati generasi muda yang memiliki pandangan jangka panjang. Perkembangan teknologi mempermudah akses ke berbagai instrumen investasi, mulai dari reksa dana, saham, hingga aset kripto dan properti skala kecil. Sejumlah pemuda di Surabaya mengalokasikan sebagian penghasilan dari pekerjaan utama maupun side hustle untuk berinvestasi sebagai langkah membangun kekayaan dan melindungi nilai uang dari inflasi.
Meski demikian, tantangan utama yang dihadapi adalah rendahnya literasi keuangan. Kurangnya pemahaman dapat memicu pengambilan keputusan yang keliru akibat informasi yang menyesatkan atau godaan keuntungan cepat. Karena itu, pendidikan finansial menjadi faktor penting agar aktivitas investasi benar-benar memberikan manfaat jangka panjang.
Ketua GEN Batang-Batang, Misdawi, dalam siaran Pro 2 RRI Sumenep, menegaskan bahwa kunci sukses generasi muda menghadapi krisis bukan terletak pada memilih salah satu opsi semata, melainkan pada kemampuan menyusun strategi yang seimbang.
“Generasi muda jangan hanya ikut-ikutan tren. Mereka harus memahami kondisi keuangan pribadi sebelum memutuskan untuk side hustle atau berinvestasi,” ujar Misdawi.
Ia menambahkan, bagi mereka yang masih berada pada fase survival, langkah awal adalah mengatur pengeluaran secara bijak dan meningkatkan pendapatan secara bertahap agar keluar dari lingkaran utang dan kekurangan. “Kalau masih tahap bertahan hidup, fokus dulu pada kebutuhan pokok dan pengelolaan utang. Setelah stabil, baru berpikir untuk mengembangkan usaha atau mulai investasi,” katanya.
Menurutnya, generasi muda yang telah berinvestasi tetap perlu memiliki sumber penghasilan stabil sebagai fondasi keuangan. “Investasi itu penting untuk jangka panjang, tetapi tetap harus ditopang oleh penghasilan yang konsisten. Jangan sampai tergiur keuntungan cepat tanpa memahami risikonya,” tegasnya.
Ia berharap generasi muda terus membangun pola pikir proaktif, meningkatkan literasi keuangan, dan mampu beradaptasi dengan perubahan ekonomi agar memiliki masa depan yang lebih aman dan terencana.